Santapan Batin 31

Ingatan akan masa lalu itu tentu bukan sekadar penyingkapan sejarah akan waktu, tempat, dan peristiwanya (bdk. Memoria Passionis Johan Baptist Metz). Menyambut kanonisasi Pater Jacques Berthieu, Oktober yang lalu, Pater Jenderal Serikat Jesus, Adolfo Nicolas, mengirimkan surat kepada anggota Serikat Jesus. Di sana, ingatan akan kemartiran Pater Jacques Berthieu seperti disingkapkan kepada kita. Paling tidak, beberapa hal ini ditunjukkan oleh Nicolas:

1) Cintanya berkobar untuk menerima tugas perutusan yang menantang ke dalam negeri, bahasa, dan budaya asing. Berthieu bekerja di Madagaskar, di berbagai bagian yang penuh konflik antara tentara Perancis dan Madagaskar. Ia tidak memihak salah satu pihak, tetapi justru berada bagai pendulum di keduanya. Sebagai orang Kristen dan kulit putih, Berthieu menjadi incaran serangan kelompok pemberontak “Kerudung Merah”, tetapi dengan berani ia mengkritik praktik hidup tentara Prancis yang tidak benar. Dengan demikian Berthieu tidak mungkin mendapat simpati dan perlindungan tentara Prancis. Hidupnya adalah miliknya yang sepenuhnya digunakan bagi pelayanan, bukan tunduk pada ketakutan.

2) Kedekatannya dengan Tuhan tak diragukan. Ia menjadi seorang pendoa yang setia. Doa-doa wajib dan devosi ia hidupi dengan ketekunan seorang pendoa yang luar biasa. “Aku ingin berdoa sampai ajalku,” begitu katanya ketika prajurit merampas salib yang dipakainya.

3) Keberanian itu harus dibayar mahal. Kepalanya dibacok. Darah mengucur. Bersama umatnya ia pun digiring pergi. Dalam keadaan seperti itu Berthieu bisa berucap kepada pemberontak yang membawanya, “Berdoalah kepada Kristus sepanjang hidupmu. Kita tidak akan pernah bertemu kembali, tetapi jangan lupakan hari ini. Belajarlah agama Kristiani dan mintalah babtis kepada pastor.”

Dalam batas-batas penderitaannya, Berthieu tetaplah seorang yang berbesar hati dan pemaaf. Ingatan akan kemartiran itu sepertinya menyingkapkan bahwa hidup begitu berharga, dan akan sangat berharga bila hidup itu rela dikorbankan dengan mengalami penderitaan sebagai jalan bagi keselamatan.

Surat kepada Korintus yang baru kita dengar dengan terang menuliskannya, ‘Penderitaan ringan seperti itu, justru mengajarkan kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari penderitaan itu sendiri.” Pengalaman penderitaan justru menawarkan kemuliaan. Maka, paling tidak belajar dari Jacque Berthieu, keberanian untuk masuk dalam wilayah menantang, menjalin kedekatan dengan Tuhan, dan kecintaan kepada umat/karya untuk membawa sesama kepada keselamatan apapun resiko yang mungkin dihadapi, dapat menjadi buah-buah ingatan yang menggerakkan dalam memaknai kemartiran sekarang ini. Ingatan akan kemartiran seperti itu juga menggugah kita untuk menyambut orang lemah, para korban, dan orang yang berjuang bagi sesamanya di sekitar kita. Ingatan itu tidak hanya rujukan pada masa lalu, tetapi juga masa kini, sekarang ini dan di sini.***

(Sharing, 4 Februari 2013, Perayaan John de Britto, Jacques Berthieu, dkk)