Perayaan Ekaristi HUT ke-90 Kolese St. Ignatius

Kolsani, menurutmu, Siapakah Aku?

Pada hari Senin, 18 Februari 2013, Kolese St. Ignatius (Ignatius House of Studies – IHS atau Kolsani) genap 90 tahun berdiri. Dalam kesempatan itu, perayaan Ekaristi pun digelar di Gereja St. Antonius Kotabaru, pada pukul 17.30. Ekaristi HUT Kolsani yang diawali dengan pemutaran video tentang sejarah Kolsani dari awal berdirinya hingga menginjak usia ke-90 tahun ini dipimpin oleh konselebran utama, Romo Fl. Hasto Rosariyanto, selaku Rektor, dan didampingi oleh para romo Kolsani, yaitu Romo Bernhard Kieser, Romo Henricus van Opzeeland, Romo Sindhunata, Romo Heru Prakosa, Romo Krispurwana Cahyadi, Romo Andreas Setyawan, Romo Bagus Laksana, Romo Mutiara Andalas, Romo Nico, Romo Brotosudarmo, dan Romo Hardaputranta sebagai Romo Paroki Gereja Kotabaru. Para frater diakon, Frs Devianto Fajar, Suryanto Hadi, Andri Astanto, Vico Christiawan – tak ketinggalan turut mendampingi di altar. Di antara para umat hadir pula para bruder anggota komunitas Kolsani dengan jubah putihnya, yaitu Br. Praptawidjaja, Br. Sarju, Br. Kirja Utama dan Br. Hadiprayitna. Tamu undangan dari aneka komunitas suster dan bruder lainnya juga nampak hadir dan lewat doa-doa mereka ikut mendukung perayaan syukur ini.

Dalam perayaan Ekaristi Hari Ulang Tahun ini, pertanyaan “Kolsani, menurutmu siapakah Aku?” menjadi pusat refleksi bersama. Pertanyaan Yesus kepada Simon Petrus itu kini diajukan kepada Kolsani sendiri. Kolsani menjawab selama ini bukan dalam bentuk rumusan yang baku, melainkan melalui keterlibatan anggota-anggotanya dalam kerasulan yang dijalankan. Memang ‘keberagaman’ juga mewarnai sejarah perjalanan Kolsani itu sendiri. Masih bisa kita lihat sekarang, ada wajah Romo Henricus van Opzeeland, SJ dan Romo Bernhard Kieser yang memperkuat Kolsani di tengah-tengah Jesuit yang berasal dari Jawa.

Jika ditarik ke belakang, 90 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1923, belum banyak orang Indonesia yang memeluk Katolik, termasuk orang Jawa sendiri. Namun demikian, sudah ada pemuda-pemuda yang berkeinginan menjadi anggota Serikat Jesus. Bukankah ini anugerah? Maka mulai ada calon-calon tersebut yang dikirim ke negeri Belanda untuk memulai formasi atau pembinaan. Namun dalam perjalanannya dari calon-calon tersebut ada yang sakit, bahkan sampai meninggal. Lalu, bukankah ini duka bagi serikat, misi, dan Gereja?

Berpijak dari pengalaman tersebut maka terbersitlah dambaan untuk membuka pembinaan awal di Indonesia. Novisiat sebagai pembinaan awal bagi Jesuit-jesuit yang ingin bekerja di Indonesia, termasuk jesuit Belanda, pun berdiri secara resmi.

“Kolsani, menurutmu siapakah Aku?”Kolsani yang didirikan tahun 1923 oleh Romo J. Hoeberechts sebagai superior missi menjadi perwujudan konkret pertanyaan tersebut. Semakin bergerak maju, Kolsani tidak hanya menjadi rumah formasi melainkan juga menjadi pusat kegiatan misi. Frater-frater Kolsani, yang kebanyakan diperkuat frater-frater Belanda, bergerak ke pelosok-pelosok Jogja, seperti Wonosari, Sedayu, Wates, Somohitan, Ganjuran, dll, untuk menjumpai umat. Demikianlah, Kolsani menjawab ‘Siapakah Aku?’ itu dengan perkembangan jaman yang mewarnai sosial-politik dan gereja di Indonesia, khususnya Jogjakarta.

Jika para Nostri terkasih sekali waktu pulang ke Kolsani, semuanya masih tetap sama. Bangunan, jendela, pintu, selasar dengan tegel yang lama, semua masih tetap sama. Semua masih setia ada seperti yang dahulu. Apa yang berubah hanyalah para penghuninya yang terus silih berganti sesuai dengan formasi yang dijalani, yang berubah pula adalah bentuk pelayanan dan keterlibatan para anggotanya. Banyak sekali jumlah anggota, beragam pula latar belakangnya ataupun kedaerahannya. Namun itu semua bukankah juga mengajak kita melihat kembali pendiri kita, Santo Ignatius Loyola, yang memiliki kerinduan untuk melibatkan banyak orang dalam karya dan rencana keselamatan Allah (AMDG)?

Maka pertanyaan ‘Kolsani, menurutmu siapakah Aku?’ dijawab dalam kesungguhan dan ketekunan melaksanakan karya dan perutusan yang diemban masing-masing anggotanya, entah dengan suka-duka, jatuh-bangun, sedih-gembira.

Rasa syukur komunitas Kolsani dilanjutkan dengan menjamu para undangan dan umat yang hadir dengan pesta ramah tamah sederhana. Di halaman sayap utara gereja disediakan lebih dari 500 porsi jajan pasar sederhana untuk dinikmati bersama dengan seluruh kolega yang hadir. Tampak seluruh umat dan para tamu undangan yang hadir berbaur akrab dengan para Romo, Frater, dan Bruder Kolsani.

Perayaan syukur belum berakhir, peringatan Hari Ulang Tahun yang ke-90 Kolese St. Ignatius masih akan dilanjutkan dengan berbagai agenda kegiatan sesuai dengan tema besar “Meretas batas: Beriman dalam Tantangan Kemiskinan, Radikalisme Agama, dan Perusakan Lingkungan”. Kegiatan dibagi dalam tiga bidang, bidang akademis melalui sarasehan. Untuk bidang spiritual melalui retret umat, perayaan jubileum dan promosi panggilan. Sedangkan untuk bidang sosial-kultural melalui berbagai lomba-lomba untuk umum khususnya anak muda, pengobatan gratis, serta seni rakyat.

(Ignatius Suryadi Prajitno, SJ dan Renatyas Fajar)