Santapan Batin 37

Ketika saya kecil, sesekali ibu mengajak saya ke sebuah mata air tak jauh dari rumah kami. Mata air itu berada di ujung sebuah kolam kecil yang sengaja dibuat oleh penduduk setempat dari susunan batu-batu kali. Saya selalu menikmati perjalanan menuruni tebing menuju kolam mata air itu sebagai petualangan yang mengasyikkan, karena saya boleh tidak memakai alas kaki dan berkubang di kolam yang jernih tanpa melepas pakaian. Satu hal yang mengusik saya adalah kenyataan bahwa kolam itu tak pernah penuh. Saya ingin air di kolam dapat melimpah-limpah agar sempurna merendam seluruh tubuh saya. Tetapi, karena air terus mengalir dari sumber air menuju sungai, maka kolam itu tak pernah penuh. Dalam logika saya, kolam tidaklah sempurna tanpa air yang melimpah. Dengan gayung saya mengambil air dari sungai keruh tempat bermuaranya aliran dari mata air itu, lantas menuangkannya ke dalam kolam. Jika tidak, saya akan meletakkan sebuah batu tepat pada jalur air untuk membendung alirannya menuju sungai. Perbuatan saya ini memang membuat kolam menjadi penuh, namun air di kolam menjadi keruh dan kotor. Saya melupakan teguran ibu atas perbuatan itu, “Penggali sumur tidak pernah memasukkan air pada lubang galiannya. Ia hanya membiarkan air mengalir mengalir bebas, tidak membendungnya atau mencermarinya dengan air kotor seperti yang kamu lakukan. “Kemudian, biasanya ibu akan melanjutkan, “Ayolah, sayang… berbuatlah seperti tukang sumur itu! Bukankah karena itu kita tidak pernah kehabisan air?” Bertahun-tahun kemudian saya menyadari “filsafat” penggali sumur itu mengilhami ibu dalam pendidikan anak-anaknya. Tak perlu menjadikan segala sesuatu penuh dan melimpah untuk sempurna. Tak perlu memaksa anak-anak menjadi penuh dan melimpah untuk membuat mereka sempurna menurut pandangan orang dewasa. Kesempurnaan justru terjadi ketika anak-anak mendapat ruang untuk mengalir, bertumbuh tanpa hambatan dan pencemaran. Bukankah pada ruang seperti itu anak-anak akan belajar memahami proses yang terjadi di sekelilingnya?

Dikutip dari MG. Sulistyorini, Nuansa Makna dalam Bahasa Ibu, Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 2003, hal. 17-18