Santapan Batin 43

Saya mengenal seorang bapak, sebut saja namanya Pak Roni. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang sangat dicintainya. Anaknya itu sudah menjadi mahasiswa di salah satu universitas di Jakarta. Hampir setiap malam si anak pulang larut malam. Kadang-kadang sampai jam 2 dini hari. Lambat laun Pak Roni merasa gelisah dengan anaknya. Pada suatu malam Pak Roni menunggu anaknya pulang. Pak Roni kemudian berkata kepada anaknya, “Mulai malam ini kamu tidak perlu membawa kunci rumah sendiri. Jam berapa pun kamu pulang, bapak akan menunggu dan membukakan pintu!” Malam berikutnya, ketika si anak pulang, Pak Roni membukakan pintu untuknya. Lama-kelamaan anaknya merasa tidak pantas ayahnya menunggu dia dan membukakan pintu rumah. Anak itu kemudian berubah. Ia tidak pernah mau pulang sampai larut malam lagi. Ia juga gelisah kalau ayahnya sakit karena terlambat tidur menunggu kepulangannya.

Dikutip dari Tari, Ignas, Cinta yang Membesarkan Hati, Jakarta, Fidei Press, 2008, hal 89.