Santapan Batin 46

Pada suatu waktu, ada seorang yang mau masuk diam-diam ke sawah tetangga untuk mencuri padi. “Bila aku hanya mengambil sedikit-sedikit dari setiap petak sawah, tak seorang pun akan tahu,” pikirnya. “Dengan cara itu, aku dapat menimbun padi untuk keadaan yang sulit seperti sekarang ini.” Ia menunggu sampai malam tiba. Ketika awan tebal menyelubungi bulan, ia menyelinap ke luar rumah. Anak gadisnya yang paling kecil dibawanya serta. “Nak,” bisiknya, “kau harus berdiri di sini untuk mengawasi. Kalau ada yang lihat Papa, teriak, ya.” Orang itu memasuki sawah pertama yang padinya sedang menguning. Ia mulai mengambil padi. Tak lama kemudian, gadis kecil itu berteriak, “Pa, ada yang lihat!”. Orang itu memandang sekeliling, tetapi ia tak melihat seorang pun. Oleh karena itu, ia terus mengumpulkan padi curiannya. Sesudahnya, ia pergi ke sawah berikutnya dan melakukan hal yang sama. “Paa, ada yang lihat!” anaknya berteriak lagi. Orang itu berhenti dan memandang sekeliling tetapi sama sekali tidak melihat seorang pun. Ia terus mengumpulkan padi dan pindah lagi ke sawah berikutnya. “Paaa, ada yang lihaat!” teriak anak gadisnya. Sekali lagi, orang itu berhenti dan memandang ke segala arah. Ia tidak melihat seorang pun. Ia kembali mengumpulkan padi. Sesudah itu, ia menyelinap ke sawah ke empat. “Paaaa, ada yang lihaaat!” teriak anak lebih keras lagi. Orang itu berhenti menuai padi dan memandang keliling. Ia tidak melihat siapa pun. Ia segera mendekati anaknya. “Kenapa kau selalu teriak, ada yang lihat?” tanyanya marah. “Padahal, Papa melihat ke sekeliling dan tenyata tidak ada siapa pun!” “Papa,” bisik anak gadisnya, “ada yang lihat Papa dari atas.”

Dikutip dari Darminta, J., Kebenaran Pasti Menang, Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 2001, hal. 58-60.