Santapan Batin 47

Pada zaman dahulu hiduplah seorang nenek tua. Ia sudah bongkok. Meski sudah tua ia memelihara lima anak yatim piatu. Nenek tua itu miskin tetapi baik hati. Tiap hari ia pergi ke hutan mencari kayu bakar untuk dijual. Pagi, siang dan sore ia harus berangkat ke hutan sendirian. Anak-anak masih kecil semuanya. Pada suatu pagi ia pulang dari hutan membawa kayu di punggung. Jalannya pelan. Nafasnya agak sesak. Di tengah jalan dilihatnya seekor kucing yang kurus dan sakit. Kucing itu dibawa pulang olehnya. Setibanya di rumah, anak-anak ingin main-main dengan kucing itu. Nenek tua tidak mengizinkannya. Kucing dibawa ke kamar dan diberi nasi campur ikan asin. kamar dikunci lalu nenek mengatur kayu untuk dibawa ke kota. Sebelum ia berangkat, nenek tua itu masuk ke kamarnya. Kucing yang sakit tadi dipanggilnya. Sayang, ia tidak kelihatan. Dicarinya di bawah kolong. Juga tidak diketemukan. Ah, kucing itu hilang. Nenek itu kecewa sekali. Ia masih kecewa waktu berangkat menjual kayu bakar. Pagi berikut nenek pulang dari hutan membawa kayu. Setibanya di tempat kucing sakit dilihatnya seorang puteri ayu yang berpakaian serba gemerlapan. Ia memanggil nenek tua dan memberinya sebuah tempurung kelapa yang sudah dibersihkan. Kata puteri jelita itu: “Bawalah tempurung ini untuk menyimpan beras bagi anak-anakmu!’ Hadiah itu dipandang tidak berharga oleh nenek tua. Ia ragu-ragu untuk menerima pemberian itu. Tetapi nenek tua itu mempunyai kebiasaan untuk tidak mengecewakan hati orang lain. Tempurung itu diterimanya dengan muka ramah. Katanya: “Terimakasih, tuan puteri. Tempurung ini akan saya pakai untuk menyimpan beras anak-anak”. Nenek itu lalu melanjutkan perjalanan pulang. Beras anak-anak ditaruhkan disitu, waktu ia sudah masuk ke dalam kamarnya. Tiap petang tempurung itu kosong, isinya sudah ditanak oleh nenek tua. Tetapi apakah yang terjadi? Pagi berikutnya tempurung itu penuh beras! Padahal nenek tua tidak mengisinya. Anak-anak dipanggil apakah menerima beras dari tetangga. Mereka tidak tahu. Alangkah gembiranya hati nenek, waktu tempurung itu penuh lagi pada pagi berikutnya.

Dikutip dari Patris, Setia Kawan, Jakarta, Yayasan Karya Kepausan Indonesia, 1978, hal. 1-2