Santapan Batin 57

Yohanes-Paulus-IIPada bulan Juni 2000, aku mendapatkan izin bertemu dengan Bapa Suci di Roma, bersama dengan sekitar tiga puluh orang lainnya. Sehari sebelumnya, melalui telepon, aku diberitahu oleh seorang wanita beraksen Itali, “tunggu di pintu perunggu Vatikan.” Tidak disebutkan alamatnya, hanya dikatakan “pintu perunggu.” Maka, aku pun menunggu di situ. Aku diajak masuk ke dalam sebuah ruangan. Orang lain bercakap-cakap dengan suara perlahan. Suasananya terasa sangat ceria.

Tiba-tiba suasana menjadi hening, seakan-akan ada sinyal yang tidak terdengar, dan kami semua menoleh ke arah yang sama.Pintu-pintu di sudut terbuka, dan Paus melangkah masuk, menggunakan tongkat. Orang-orang bertepuk tangan dengan riuh. Sekelompok biarawati muda berambut hitam dan berpakaian biru, di sebelah kiri, serentak menyanyikan lagu yang riang. Paus, yang bergerak perlahan, berhenti di depan mereka. Kepalanya agak condong ke belakang, dan dia mengangkat tongkatnya dan menggerakkannya ke arah mereka sambil bergurau dan berkata, dengan suara bariton, “Filipina?” Para biarawati Filipina bereaksi dengan gegap gempita. Beberapa di antara mereka berlutut ketika Paus melewatinya. Lalu, Paus melihat ke kelompok lain dan menggerakkan tongkatnya dan berkata, “Brah-sill?” Kelompok orang Brasil bertepuk tangan dan mulai menangis. Paus terus berjalan, sekarang dengan lebih cepat. Dia mendekati seorang pemuda yang penampilannya berbeda, rambutnya hitam lebat. Perawakannya ramping, orang Asia, berpakaian seperti orang yang belajar menjadi pastor. Dia terlihat seperti sedang melamun, bahagia, dengan kedua tangannya menyatu seperti sedang berdoa. Paus mengangkat tongkat ke arahnya dan berkata, “Cina!” Pria muda itu langsung berlutut, lalu akan mencium sepatu Paus. Tetapi, Paus menggapainya ke dalam pelukannya. Kejadian itu sangat tulus dan spontan yang membuat air mataku tiba-tiba tergenang.

Akhirnya Paus mendekatiku. Aku mencoba memikirkan apa yang akan kukatakan. Tentang betapa sudah bertahun-tahun aku mendambakan pertemuan dengan orang ini, yang memimpin jutaan umat di seluruh dunai, yang dilahirkan dalam lingkungan sederhana dan menjadi orang yang paling terkenal di dunia. Lalu, tiba-tiba, tampaklah dia, berjalan hanya beberapa sentimeter dariku. Aku kehabisan waktu untuk berpikir, tetapi tidak apa-apa. Dia datang mendekat, dan wajahnya berada di hadapanku. Kusentuh tangan kirinya dengan kedua tanganku. Lalu, aku menghormat dengan setengah berlutut. Saat kupegang tangannya, kucondongkan badan ke depan dan mencium buku jarinya yang tebal. Rasanya waktu itu aku berkata, “Papa” atau Halo, Papa.” Dia memandangku dan menyisipkan sebuah amplop plastik cokelat yang lembut ke tanganku. Amplop itu berbentuk bujur sangkar dengan sisi lima sentimeter dan berhiaskan segel dengan stempel khusus kepausan. Ketika beberapa waktu kemudian aku membukanya, kulihat manik-manik rosario plastik putik dan sebuah salib berwarna perak.

Aku masih memiliki foto pertemuan kami. Aku tidak melihat ada orang yang memotret kami dan terkejut ketika menerimanya dari kantor kardinal. Aku terlihat bahagia. Orang terakhir yang ditemui Paus di ruangan itu adalah penyanyi rock heavy-metal asal Kanada. Ketika Paus mendekatinya, anak muda itu membungkuk dan mencium tangannya. Dia berkata, “Aku menulis lagu untukmu.” Dia menyerahkan selembar kertas lagunya, yang ditulis tangan dengan indah. Judulnya “Sebuah lagu untuk Johanes Paulus II.” Paus bertanya, “Kamu yang menulis ini?” Dan penyanyi rock itu menjawab, “Ya, untukmu.” Paus menerimanya, lalu berjalan ke meja berwarna cokelat, dan menandatangani kertas lagu itu dengan tulisan hiasan, Ionnes Paulus pp. II. Dia kembali dan memberikannya kepada penyanyi tersebut.

Lalu, di terus berjalan, dan meninggalkan ruangan. Suasana tetap hening sampai penyanyi rock itu berkata dengan suara lirih, “Ini peristiwa paling istimewa dalam hidupku.” Orang-orang menangis, tertawa, ketika kami meninggalkan ruangan. Aku merasa lebih ringan daripada udara. Aku melangkah ke jalanan Roma, memanggil taksi, meminta sopir taksi mengantarku ke hotel. Dan tetap begitu bahagianya sampai-sampai ketinggalan kacamata di kursi taksi. Tetapi aku ingat rosarioku. Aku masih memilikinya sampai sekarang.

Dikutip dari Hatch, David K, Everyday Greatness (Inspirasi untuk Mencapai Kehidupan yang Bermakna), Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007, hal. 60-62.