Santapan Batin 61

uangAku masih ingat ketika aku harus memutuskan siapakah diriku ini. Sepanjang malam aku berbaring dengan mata terbuka, bergumul dengan masa laluku, berusaha memaknai masa depanku. Saat itu Desember 1972. Aku menjabat sebagai pelatih kepala olahraga futbal di Pennsylvania State University selama hampir tujuh tahun, dan kukira aku sudah puas. Lalu, aku mendapat panggilan telepon yang tak kuduga itu-tawaran yang bisa membuatku menjadi orang kaya jika aku meninggalkan sekolah yang kucintai ini. Orang yang meneleponku adalah Bill Sullivan, mantan ketua dan pemilik utama tim New England Patriots. “Aku ingin bertemu denganmu untuk membicarakan tawaranku melatih timku,” katanya. Kukatakan kepada Sullivan bahwa aku menerima beberapa tawaran lain dan tidak tertarik untuk melatih tim pro. Lalu, dia menghantamku dengan tawaran hebat itu – $1,3 juta, ditambah dengan sebagian kepemilikan dari waralaba dan bonus $100.000 jika bersedia menandatangai kontrak. Di Penn State, bayaranku $35.000 total. Gajiku sudah cukup memuaskan keluargaku- tetapi, tawaran Sullivan membuatku pening.

Akhirnya, kukatakan kepada istriku, “Aku harus menerima tawaran itu.” “Joe, apa pun yang kau inginkan, aku menurut saja,” jawab sue. Kutelepon Sullivan dan kukatakan bahwa aku menerima tawarannya. Ketika aku dan Sue pergi tidur malam itu, aku berkata, “Oke, sayangku. Malam ini kau tidur dengan seorang jutawan.” Pada jam 2.00 pagi, Sue duduk di kursi goyangnya, menyusui bayi kami. Aku yakin dia mengira aku sudah lelap tidur. Dia tidak pernah mengatakan bahwa dia tidak ingin pindah ke Boston. Tetapi sekarang air mata membasahi pipinya. Aku berbaring sambil memikirkan kehidupan yang akan kutinggalkan. Kubayangkan sekolah tempatku berkenalan dengan istriku, satu-satunya rumah yang pernah dikenal kelima anak kami. Kubayangkan para mahasiswa, patung granit maskot kami, Nittany Lion, dan para pemain futbalku yang berleher tebal tetapi berhati lembut. Apa sebenarnya yang membuatku menelepon Sullivan dan mengatakan bahwa aku menerima tawarannya? Memang benar, Boston adalah kota yang hebat. Pekerjaan itu adalah tantangan baru. Tetapi, masalahnya adalah… uang. Tiba-tiba aku tahu apa yang harus kulakukan, apa yang ingin kulakukan.

Keesokan paginya, kukatakan kepada Sue, “Tadi malam kau tidur dengan seorang jutawan, tapi bangun pagi denganku. Aku tidak akan pergi.” Di kemudian hari, dia mengatakan bahwa pikiran pertama yang melintas dibenaknya adalah: Oh, syukurlah. Sejak kurasakan pencerahan pada malam itu, aku sadar apa arti futbal universitas bagiku- dan apa arti yang tidak ada pada futbal pro. Aku suka memenangi pertandingan, sama seperti para pelatih lain, tetapi aku sadar bahwa ada sesuatu yang lebih bermakna daripada kemenangan atau kekalahan. Aku bisa menyaksikan para pemainku tumbuh- dalam disiplin mereka sendiri, dalam perkembangan pendidikannya, dan sebagai manusia biasa. Itu adalah imbalan abadi yang amat bermakna yang tak akan pernah kudapatkan dari futbal pro.

Dikutip dari Hatch, David K, Everyday Greatness (Inspirasi untuk Mencapai Kehidupan yang Bermakna), Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007, hal. 126-127