Beriman dalam Tantangan Kerusakan Lingkungan Hidup: Kepedulian Warga sekitar Sungai Code pada Lingkungan dan Kemungkinan untuk Membangun Gerak Bersama

codeMinggu, 28 April 2013 pukul 10.30-13.30 kemarin, Kolese St. Ignatius (Kolsani) menyelenggarakan Sarasehan dengan mengambil tema “Beriman dalam Tantangan Kerusakan Lingkungan Hidup: Kepedulian Warga sekitar Sungai Code pada Lingkungan dan Kemungkinan untuk Membangun Gerak Bersama”.

Dalam sarasehan tersebut hadir tiga orang narasumber, yaitu Bapak Suparyanto selaku Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Suryatmajan, Bapak Drs. Totok Pratopo selaku Ketua Pemerti Code, dan Bapak A.G. Sumaryoto selaku Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) BAGAS Blimbingsari sekaligus anggota Dewan Paroki Gereja St. Antonius Kotabaru. Sarasehan ini dihadiri oleh 132 peserta (di luar anggota komunitas Kolsani); dan mereka itu berasal dari anggota Dewan Paroki serta umat lingkungan Gereja Kotabaru yang tinggal di bantaran Sungai Code, kaum muda, dan pemerhati lingkungan hidup. Sarasehan diramaikan pula oleh penampilan group musik dari KSM BAGAS Blimbingsari. Group tersebut tampil untuk menghibur di tengah acara dan menemani para peserta dalam menikmati snack.

Bapak Suparyanto mengawali diskusi dengan memaparkan peran LPMK sebagai mitra pemerintah di tingkat kelurahan, dan sebagai fasilitator di dalam menggerakkan program-program pembangunan masyarakat, termasuk di bidang lingkungan hidup. Wilayah Kelurahan Suryatmajan yang terletak di bantaran Sungai Code menjadikan program pembangunan bagi masyarakat terarah pada program peduli lingkungan sungai, khususnya Sungai Code. Usaha yang dilakukan antara lain dengan membuat bank sampah, melibatkan warga dalam program muralisasi, penghijauan, pemagaran wilayah bantaran Code. Selain itu, LPMK juga berusaha untuk membangun dialog sebagai fondasi penentu arah kebijakan, serta menjaga komunikasi sebagai upaya untuk mengubah pemahaman masyarakat tentang sungai sebagai bagian integral dari kehidupan mereka.

Selanjutnya Ketua KSM Blimbingsari, Bapak A.G. Sumaryoto menjelaskan mengenai kelompok swadaya masyarakat Blimbingsari yang berupaya untuk membentuk wadah usaha penyehatan lingkungan melalui pengelolaan limbah domestik. Kepedulian terhadap kesehatan lingkungan amatlah mendesak bagi usaha masyarakat Blimbingsari dalam membangun IPAL bagi limbah domestik.

Senada dengan dua pembicara sebelumnya, Ketua Pemerti Code, Bapak Drs. Totok Pratopo menyambung dengan presentasi tentang tantangan dan harapan terhadap Kali Code. Jika dikelola dengan optimal, menurutnya, Kali Code akan mampu menjadi Natural Heritage Jogja. Usaha untuk mewujudkan harapan itu tak kenal lelah dilakukan oleh Pemerti Code dengan ‘kampanye sosial’ bahwa Sungai Code perlu ditata dan diperhatikan, tidak hanya melalui kesepakatan tertulis antar komunitas, namun juga pendekatan sosial kulutral. Usaha-usaha radikal untuk menjaga Sungai Code wajib terus digalakkan mengingat belum adanya kepedulian dari pemerintah, termasuk belum dipikirkannya secara jelas soal kewenangan serta kelembagaan bagi Code.

Tanggapan positif atas pemaparan ketiga narasumber sekaligus tokoh masyarakat Code tampak dari usulan serta saran-saran menantang dari para peserta sarasehan. Selama kurang lebih 45 menit, ada 10 peserta yang menyampaikan apresiasi serta masukan bagi pembenahan Sungai Code. Salah satunya bahkan mengantar pada pertanyaan yang menyangkut Teologi (Harapan): “Kalau upaya perbaikan-perbaikan Sungai Code yang dilakukan tanpa kenal lelah, dalam jangka waktu periodik akan selalu hancur oleh sapuan lahar dingin dari Merapi, sedemikian rupa sehingga beberapa pihak akan mengatakan bahwa bencana Sungai Code adalah bagian dari sunatullah (takdir), lalu apakah arti dari semuanya itu? Apakah itu sebuah bentuk ‘kesia-siaan yang sempurna’ atau sebaliknya ‘kesempurnaan yang sia-sia’? Bagaimanakah kita dapat membangun sikap ketahanan untuk terus berani menatap ke depan dalam semangat penuh harapan lewat upaya-upaya pembaharuan?” Pembicaraan memang belum sempat mengarah kepada gerakan bersama secara lebih konkret. Tetapi upaya dialog seperti ini mampu menjadi sarana edukasi bersama untuk membangun penyadaran atau konsientisasi bahwa Sungai Code merupakan milik masyarakat Yogyakarta yang perlu diperhatikan bersama. Jadi Sungai Code tidak hanya menjadi perhatian warga sekitar bantaran Sungai Code saja. Di penghujung sarasehan, diskusi mengarah pada ajakan kepada setiap peserta yang hadir di sarasehan untuk menjadi pewarta kasih dan agen perubahan bagi gerakan-gerakan radikal guna menjaga Sungai Code.