Santapan Batin 62

Pemuda yang berkursi roda itu, pasienku, didorong sambil duduk di kursinya ke podium di SMA untuk menyampaikan pidato wisudanya. Dengan wajah yang masih separuh lumpuh, dia berbicara dengan suara perlahan. Tetapi, pidato yang disampaikan Mark Orsini itu adalah pidato yang hebat dan mendapatkan tepukan tangan sambil berdiri dari teman-temannya sesama siswa, yang pernah meragukan apakah dia akan sanggup bertahan sampai hari wisuda. Pemuda berusia delapan belas tahun itu mengidap sindrom Guillain Barré, reaksi autoimun yang bisa menyebabkan kelumpuhan. Tak berapa lama lagi dia akan benar-benar lumpuh. Orangtuanya bersikeras bahwa dia seorang yang pantang menyerah; dia akan berhasil melawan penyakit itu dan bisa kuliah di Dartmounth. Tetapi, sementara ini, dalam keadaan tak dapat bergerak dan harus menggunakan alat bantu pernapasan, bagaimana dia bisa mengajukan pertanyaan atau ikut berperan mengurus dirinya sendiri? Jalan keluarnya luar biasa: Keluarganya duduk di samping Mark dan membacakan urutan abjad. Ketika mereka tiba pada huruf yang diperlukan Mark untuk menulis kata yang dimaksudkannya, Mark mengangguk, tanda “ya”. Mereka menuliskan kata itu, lalu mulai lagi dan menunggunya mengangguk lagi. Mereka tidak pernah kehilangan kesabaran, dan Mark berperan dalam setiap keputusan. Terapi baku ternyata tidak banyak membantu, jadi kuajukan perawatan yang mengandung risiko untuk menyaring darahnya. Setelah selesai menjalani perawatan itu, keadaannya tampak membaik, dan tak lama kemudian dia bisa menggerakkan jari kaki, tungkai, dan lengannya. Mark sudah lulus dari Dartmounth. Aku melihatnya di ruang praktikku beberapa waktu yang lalu, dan dia merasa sangat sehat. Tetapi banyak yang tak terucapkan. Aku ingin mengatakan bahwa aku mengaguminya, dan bahwa kedua orangtuanya adalah orang-orang yang paling hebat yang pernah kukenal, duduk berjam-jam di samping tempat tidurnya, dengan sabar mendengarkan anaknya berbicara, huruf demi huruf. Aku ingin mengatakan kepadanya betapa malunya aku karena ketika anak-anakku berusaha mengajakku bicara, aku mengabaikannya karena aku tak punya waktu untuk mendengarkan mereka. Aku ingin mengatakan bahwa aku tak akan pernah melupakannya atau kedua orangtuanya. Tetapi, tak ada kata yang bisa kuucapkan.

Dikutip dari Hatch, David K, Everyday Greatness (Inspirasi untuk Mencapai Kehidupan yang Bermakna), Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007, hal. 334-335