Rekoleksi Komunitas – Peringatan 90 Tahun Kolese St. Ignatius

romeroLukisan:
“Ein Jahr, das Gott gefällt – Neubeginn und Befreiung” karya Suryo Indratno, Indonesia. Das Misereor-Hungertuch 2000 aus Indonesien
Sumber: http://www.albertusmagnus-archiv.de/hungtuch/tuch_2000.htm[/caption]

Cara Kita Bertindak

Menemukan kehidupan ilahi pada realitas sejati merupakan perutusan harapan yang diberikan kepada kita, para Yesuit. Kita kembali menapak perjalanan yang telah ditempuh Ignatius. Sebagaimana dia mengalaminya, demikian pula kita. Karena ruang batin, tempat di mana Allah bekerja di dalam diri kita, dibuka, kita mampu melihat dunia sebagai tempat di mana Allah berkarya dan ditandai dengan kehendak serta kehadiran-Nya. Dengan demikian kita memasuki, bersama Kristus yang memberikan air hidup, tempat-tempat yang kering dan tak memiliki daya hidup di dunia ini. Cara bertindak kita adalah menemukan jejak-jejak Allah di mana pun, mengenali bahwa Roh Kristus bekerja di segala tempat dan situasi dan dalam seluruh aktivitas dan sarana untuk semakin menghadirkan-Nya di dalam dunia. Perutusan untuk berikhtiar “merasakan dan mengalami” (sentir y gustar) kehadiran dan karya Allah dalam semua pribadi dan pusaran dunia ini menempatkan kita, para Yesuit, di tengah tegangan yang menarik kita secara bersamaan pada Allah dan dunia. Hal ini memunculkan, bagi para Yesuit dalam perutusan, kutub-kutub tegangan, – ini khas ignasian – yang menyertai jati diri kita yang kuat berakar pada Allah sepanjang hidup, sementara terus-menerus merasuk ke jantung hati dunia. Berada dan bekerja; kontemplasi dan aksi; doa dan hidup profetis; seutuhnya bersatu dengan Kristus sekaligus sepenuhnya masuk ke dalam dunia bersama-Nya sebagai tubuh apostolis: segala kutub ini menandai secara mendalam hidup seorang Yesuit dan mengungkapkan baik hakikat maupun kemungkinan-kemungkinannya. Injil memperlihatkan Yesus yang memiliki hubungan kasih yang mendalam dengan Bapa-Nya dan, pada saat yang sama, sepenuhnya mencurahkan perutusan-Nya di tengah umat manusia. Dia senantiasa berada dalam arus gerakan: dari Allah, bagi sesama. Inilah kekhasan Yesuit: bersama Kristus dalam perutusan, senantiasa kontemplatif, selalu aktif. Inilah rahmat – juga tantangan kreatif – bagi kehidupan religius apostolis, yang harus menghidupi tegangan antara doa dan karya, antara mistik dan pelayanan. Untuk itu sangatlah perlu bagi kita untuk secara kritis merefleksikan diri agar tetap sadar perlunya menghayati secara setia tegangan antara doa dan pelayanan ini. Kita tidak dapat menafikan tegangan kreatif ini sebab tegangan inilah tanda jati diri hidup kita sebagai orang-orang kontemplatif dalam aksi, yaitu para sahabat Yesus yang diutus ke dalam dunia. Apapun yang kita lakukan di dalam dunia, di situ mesti selalu ada keterbukaan akan Allah. Hidup kita haruslah memunculkan pertanyaan ini: “Siapakah kalian, sedemikian hingga melakukan hal-hal seperti ini … dan kamu mengerjakannya dengan cara seperti ini?”

Para Yesuit haruslah mengejawantahkan – terutama di tengah dunia dewasa ini yang ditandai oleh kebisingan dan pesona yang tiada henti – rasa-merasa akan yang kudus yang terlibat aktif di dalam dunia. Cinta mendalam akan Allah dan akan dunia hendaknya menyalakan api dalam diri kita – yaitu api yang menyulut kobaran api-api yang lain! Karena, pada akhirnya, tiada kenyataan yang sepenuhnya melulu profan bagi mereka yang tahu bagaimana memandangnya. Hendaknya kita mengomunikasikan cara memandang ini dan memberikan pedagogi, – berilhamkan Latihan Rohani – yang membawa manusia, terutama kaum muda, untuk masuk ke dalamnya. Dengan demikian mereka dapat memandang dunia sebagaimana hidupnya bertumbuh dari apa yang dipahaminya di Cardoner sampai pada pendirian Serikat dengan perutusannya untuk mengemban amanah Kristus sampai ke ujung dunia. Perutusan ini, berakar pada pengalamannya, berlanjut sampai hari ini.

Prayer of Oscar Romero

It helps, now and then, to step back and take the long view.
The Kingdom is not only beyond our efforts, it is even beyond our vision.
We accomplish in our lifetime only a tiny fraction of the magnificent enterprise that is the Lord’s work.
Nothing we do is complete, which is another way of saying that the Kingdom always lies beyond us.
No statement says all that should be said. No prayer fully expresses our faith.
No confession brings protection, no pastoral visit brings wholeness.
No programme accomplishes the Church’s mission. No set of goals and objectives includes everything.
This is what we are about. We plant the seeds that one day will grow.
We water seeds already planted, knowing that they hold future promise.
We lay foundations that will need further development.
We provide yeast that produces effects far beyond our capabilities.
We cannot do everything and there is a sense of liberation is realising that.
This enables us to do something and to do it very well.
It may be incomplete, but it is a beginning, a step along the way,
An opportunity for the Lord’s grace to enter and do the rest.
We may never see the results,
But that is the difference between the Master builder and the worker.
We are workers, not Master builders; ministers, not Messiahs.
We are prophets of a future that is not our own.

The prayer is undated; The late Bishop Oscar Romero was the Archbishop of San Salvador, El Salvador, assasinated by the military junta on March 24, 1980