Santapan Batin 65

Foto: chicio.blogspot.com
Foto: chicio.blogspot.com

Pasti menjengkelkan sekali,” kataku, dan sudah langsung ingin menceritakan pengalamanku sendiri yang juga menyeramkan – mobil mogok jam 21.30 di pelataran parkir yang sudah sepi. Tetapi, ada orang mengetauk pintu rumah, sehingga ibu mertuaku mengakhiri obrolan kami di telepon. “Terima kasih karena kau sudah mau mendengarkan ceritaku,” katanya menambahkan, “tapi yang paling membesarkan hatiku adalah bahwa kau tidak menceritakan pengalamanmu yang paling buruk tentang mobil mogok.” Pipiku terasa panas, merah padam. Kututup telepon. Selama beberapa hari berikutnya, aku terus memikirkan kearifan kata-kata terakhir yang diucapkan ibu mertuaku itu. Sering sekali rasanya ketika aku mulai menceritakan pertengkaran dengan putraku, kekecewaan dalam pekerjaanku, atau bahkan mobilku yang mogok, temanku memotong ceritaku dengan berkata, “Aku juga baru saja mengalami hal yang sama.” Tiba-tiba saja obrolan kami menjadi obrolan tentang anaknya yang tidak tahu berterima kasih, majikannya yang menyebalkan, slang bensin mobilnya yang bocor. Dan yang bisa kulakukan hanyalah mengangguk-anggukan kepala, merasakan bahwa ternyata kita semua mengidap gangguan kekurangan perhatian secara emosi. Begitu mudahnya versi empati ini, – “Aku bisa merasakan bagaimana perasaanmu dan aku bisa membuktikannya.” – dikaburkan oleh kenyataan. Memang sangat alami jika kita berusaha menghibur teman yang sedang kesusahan dengan membesarkan hatinya bahkan bukan hanya dia yang mengalami kesusahan. Namun, musibah hanya bermiripan kalau dilihat dari kejauhan. Dari dekat, setiap musibah sebenarnya unik, seperti sidik jari. Suami teman Anda mungkin menjadi korban perampingan perusahaannya, sama seperti suami Anda, tapi dua keluarga yang berbeda tidak mungkin punya dua rekening bank, paker kompensasi, dan rencana cadangan yang sama. Mengatakan, “Aku bisa merasakan apa yang kaurasakan.” Juga bisa menjadi pengantar untuk memberikan saran – “ Inilah yang kulakukan mobil membutuhkan waktu tiga kali waktu yang biasanya, atau jika anak kita demam di tengah malam, apakah kita benar-benar ingin mendengar bagaimana teman kita menangani situasi serupa? Yang kita harapkan ketika kita sedang kesal atau gelisah atau sangat gembira adalah mendapatkan teman yang sepertinya punya waktu hanya untuk mendengarkan cerita kita. Kemampuan untuk menemani orang lain yang sedang ditimpa musibah atau yang sedang bergembira adalah landasan sikap empati sejati. Untunglah, sikap empati sangat mudah dipelajari. Sejak percakapan telepon dengan ibu mertuaku itu, misalnya, aku berhasil meredam keinginanku yang sering dengan kuatnya muncul di saat temanku menceritakan pengalamannya. Aku belajar mengikuti ke mana arah cerita temanku, memperhatikan bahasa tubuhnya, mimik wajahnya, nada suaranya, dan hal-hal yang tak terucapkan. Aku juga cenderung lebih mengenali dan menghargai sikap empati di saat akulah yang menerimanya. Tempo hari aku menelepon seorang teman dan menceritakan bahwa aku sedang gelisah dan tidak bisa berkonsentrasi. “Mau kauceritakan padaku?” tanyanya. Jadi, aku pun mengoceh selama beberapa saat. Akhirnya, aku mengucapkan terima kasih karena dia telah bersedia mendengarkan ocehanku dan menanyakan bagaimana perasaannya, “Kita bisa cerita tentang diriku besok-besok saja,” katanya. Nah ini baru namanya empati. Kita tidak selalu mengharapkan diberi jawaban atau nasihat. Kadang-kadang yang kita butuhkan hanyalah seorang teman.

Dikutip dari Hatch, David K, Everyday Greatness (Inspirasi untuk Mencapai Kehidupan yang Bermakna), Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007, hal. 332-333