Santapan Batin 71

Ketika sedang makan siang di sebuah restoran pada pertengahan 1980-an, kudapati bahwa ternyata Chicken Little (ayam kecil, tokoh film kartun) tahu apa yang dikatakannya: Langit bisa jatuh mendadak, dan menimpa kepalaku melalui panel langit-langit yang besar, menghantamku ke meja. Orang lain di restoran itu tidak ada yang tertimpa. Aku tidak pingsan, tapi kepalaku cedera yang membuatku harus beristirahat di tempat tidur, bingung, dan kelimpungan selama berbulan-bulan serta lumpuh separuh badan selama setahun setengah. Pada beberapa bulan pertama proses pemulihan, semua indraku terganggu. Pandanganku kabur dan aku sangat peka terhadap cahaya, sehingga tirai di kamarku harus selalu ditutup. Bahkan melihat pola yang berbeda-beda pada selimut quilt-ku ternyata bisa mengacaukan keseimbanganku; aku terpaksa membalikkan selimut itu sehingga yang terlihat olehku hanya bagian belakangnya yang polos. Aku tidak bisa mendengar lagu karena hal itu membuatku pusing. Aku tidak bisa bercakap-cakap di telepon karena mengolah suara dan menyusunnya menjadi pola yang berarti di benakku ternyata sia-sia. Dan aku tidak bisa mengecap makananku atau mencium keharuman rambut putriku setelah dikeramas. Ada kalanya selama beberapa hari aku kesakitan jika tersentuh. Benda ringan yang menyentuh kakiku sudah terasa sangat berat dan tak tertahankan. Menarik sweter melalui siku menimbulkan sengatan seperti kalau kuku jari menggaruk papan tulis. Indra lain yang selama ini tak pernah kuhiraukan menjadi asing bagiku, dan aku sungguh merindukannya. Seperti seekor kucing yang kumisnya dipangkas, aku kehilangan sensasi keseimbangan, dan juga persepsi akan kedalaman dan jarak. Memikirkan untuk turun dari tempat tidur, untuk menyeduh secangkir teh membuatku meringis karena aku tahu bahwa aku akan terhuyung-huyung dan jatuh. Aku bekerja sebagai wartawan yang menulis rubrik gaya hidup untuk The Washington Post, dan karena kecelakaan itu, aku juga kehilangan sahabat karibku – kata-kata yang tertulis dan yang lisan – di samping juga kehidupanku yang ceria dan perasaan menjadi anggota kelompok. Keharusan menghabiskan waktu di tempat tidur dan bukan bersama keluarga, ketidakmampuanku mengurus putriku Katie yang baru berusia dua tahun, membuatku kehilangan jati diri. Kalau aku bukan seorang istri, ibu, penulis, jadi siapakah aku? Dalam waktu sekejap yang tak kuharapkan itu, tampaknya rasa humorku, perasaankutentang tempat, tentang tujuan, tentang keselamatan, tapi yang terpenting, perasaan damaiku, semuanya punah.

bersyukur
Efek samping yang merisaukan itu berlangsung selama beberapa bulan dan mengubah hidupku dengan cara yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Karena aku tidak bisa bicara dengan benar atau membaca sambil mengerti apa yang kubaca, aku diselimuti rasa malu. Bahkan ketika aku tidak lagi harus beristirahat di tempat tidur, aku begitu malu dengan kondisiku sehingga tidak berani melangkah lebih jauh dari halaman belakang rumahku. Tentu saja hal ini semakin mempertegas perasaanku yang merasa terkucil. Alih-alih menikmati kebersamaan dengan keluarga dan teman-temanku, hari-hariku sekarang diisi dengan perasaan kehilangan, malam-malamku diisi dengan ketakutan menghadapi masa depan. Pada masa aku kehilangan indraku itu, aku terus meratapi nasibku, “Mengapa harus aku? Mengapa begini? Mengapa terjadi sekarang?” Mengapa Tuhan menimpakan musibah ini hanya padaku? Tentu saja sekarang aku tahu bahwa musibah yang menimpaku bukanlah ulah Tuhan, melainkan bertabrakannya keadaan dengan nasib, karma, dan kesalahan manusia: Panel langit-langit di restoran itu tidak disekrup dengan kencang setelah dilakukan perbaikan saluran AC. Aku menjadi benar-benar yakin bahwa pada saat kita ditimpa musibah, Tuhan ikut menangis bersama kita. Dan, karena kita begitu dicintai, Dia menyembuhkan kita dengan cara yang tak terbayangkan sebelumnya. Masa istirahatku merupakan kesempatan bagus karena aku memusatkan perhatianku pada surga. Hasil renunganku yang paling berharga adaah ini: Tuhan ternyata dapat kita temukan di tempat dan pada waktu yang sama sekali tidak kita perkirakan. Musa menemukan Tuhannya dalam semak yang terbakar. Dan aku menemukan Tuhanku dalam wadah saus spageti buatan rumah. Berbulan-bulan setelah kecelakaanku, saus spageti adalah benda pertama yang bisa kucium baunya. Ketika aroma harum, yang ditimbulkan saus pemberian seorang teman yang baik hati mendidih perlahan-lahan di kompor, melayang ke kamar tidurku, aku nyaris tak mempercayai hidungku. Dengan kegembiraan yang meluap-luap, kuikuti wangi yang aneh tapi kukenal baik itu – bau bawang putih, bawang bombai, tomat, lada, dan oregano – menuruni tangga menuju ke dapur. Aku benar-benar gembira luar biasa. Rasanya seperti sedang berdiri di atas tanah suci di rumahku sendiri. Aku telah menemukan keajaiban yang sakral dalam hal-hal yang biasa; sejak saat itu hidupku berubah total untuk selamanya. Kuambil sendok, dan kucelupkan ke dalam saus itu, lalu kubawa menghampiri bibirku. Aku masih belum bisa mengecap saus itu, hanya bisa mengenal suhu dan teksturnya. Tidak jadi soal. Aku sangat bersyukur karena bisa mencium wangi yang harum dari kehidupan yang biasa-biasa saja sehingga aku pun bangkit dan berlari. Aku masuk ke kamar mandi dan mengambil sebotol Vicks VapoRub. Yes! Bau kayu putih! Lalu, kubenamkan wajahku ke dalam baju yang baru selesai di cuci dan menghirup wangi kemeja yang masih hangat. Dan begitulah selanjutnya. Selama beberapa pekan berikutnya yang membahagiakan, aku menemukan kembali kehidupanku dengan sensasi yang sama dengan yang dialami putri kecilku. Yang berikutnya adalah indra pengecap, diikuti pendengaran, penglihatan, dan peraba. Kepulihan setiap indra itu disertai dengan perasaan bahagia dan bahkan air mata. Menggigit buah persik yang ranum dan banyak airnya. Mendengarkan lagu. Menyaksikan berkas sinar matahari yang terang melalui jendela. Bisa mengenakan sweter kesayanganku. Dan, tentu saja, memangku putriku dalam pelukanku kembali. Aku tercengang dan malu karena selama ini tidak pernah menghargai nikmat yang ada di depan mataku. Biar saja disebut klise, tapi kita baru akan menyadari betapa beruntungnya kita pada saat musibah melanda. Tidak lagi. Aku bersumpah untuk tidak akan pernah sekali pun melupakannya. Dan memang begitu. Bertahun-tahun kemudian, setiap hari kujadikan hari yang penuh semangat, penuh pengalaman indrawi, dan kusediakan waktu untuk menikmati tekstur, rasa, pemandangan, suara, dan aroma kehidupan. Melalui kekuatan dan keanggunan ungkapan terima kasih, Anda pun dapat melakukan hal yang sama.

Dikutip dari Hatch, David K, Everyday Greatness (Inspirasi untuk Mencapai Kehidupan yang Bermakna), Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007, hal. 208-211