Ajarilah Kami menjadi Sahabat dan Pelayan dan Sahabat bagi Sesama

cover-tahbisanJudul di atas merupakan tema dari Tahbisan Imam Serikat Yesus 2013. Apa yang melatarbelakangi kesembilan Imam Baru tersebut memilih tema ini? Inilah kisah mereka.

Kami bersembilan datang dari berbagai macam tempat dengan bermacam latar belakang keluarga dan sejarah hidup. Rentang usia di antara kami juga cukup lebar, antara 31 sampai 45 tahun. Kami menempuh jalur formasi berbeda-beda di dalam Serikat Yesus. Kami berasal dari lima angkatan novisiat yang berbeda, 1999-2003. Ada yang masuk novisiat ketika kalender masih menunjuk abad ke-20, tetapi sebagian besar masuk Serikat Yesus pada awal abad ke-21. Sebagian besar dari kami menempuh masa yuniorat di Manila selepas novisiat; sebagian lagi langsung belajar filsafat. Tahap Orientasi Kerasulan kami jalankan di berbagai tempat berbeda, baik di dalam maupun di luar negeri, dalam jangka waktu berbeda pula. Masa formasi teologi kami pun dijalankan di beberapa perguruan yang berbeda: ada yang belajar teologi di Australia, Manila, Roma; beberapa belajar teologi di Yogyakarta, di pinggir Kali Code, Kolese St. Ignatius. Dari berbagai perbedaan itu, kini kami semua dikumpulkan sebagai satu angkatan tahbisan 2013.

Mempersiapkan tahbisan imamat ini, kami merenungkan rahmat yang ingin kami mohonkan, semangat dan identitas yang ingin kami hayati sebagai imam. Lalu, kami mencoba menuangkan semua itu ke dalam tema tahbisan imamat. Kami berharap bahwa tema tahbisan ini sungguh menemani dan menginspirasi kehidupan kami sebagai imam-imam baru Serikat Yesus yang berjuang untuk merasul di dunia modern dengan segala karakteristik dan tantangannya. Di dalam permenungan ini, kami memandang ke dalam diri kami masing-masing: dinamika perasaan, disposisi batin yang ada. Kami juga memandang keluar, pada berbagai realitas di sekitar kami yang menemani masa tahbisan imamat kami. Dalam usaha itu, memang kami berhadapan dengan berbagai pengalaman gelap yang seringkali melemahkan semangat. Kami tidak menutup mata akan adanya berbagai realitas menyedihkan di dalam kehidupan para imam dan juga Gereja. Di sisi lain, kami juga menemukan berbagai pengalaman terang yang meneguhkan pilihan bebas kami untuk menerima rahmat tahbisan imamat ini.Berikut ini adalah beberapa peristiwa yang cukup kuat mewarnai permenungan kami.

Yang pertama adalah pengunduran diri Paus Benediktus XVI dan terpilihnya Kardinal Bergoglio sebagai Paus baru. Pengunduran diri Paus Benediktus XVI membuat kami terkejut sekaligus kagum akan teladan kerendahan hati yang beliau tunjukkan. Demikian pula dengan Paus Fransiskus. Sejak awal masa kepemimpinannya, kami merasakan bahasa yang dekat, akrab dan menyapa umat. Kami rasakan kemurahan hati beliau untuk melayani, ajakan beliau untuk berani keluar dari diri sendiri agar sampai ke berbagai periferi kehidupan. Kami rasakan pula keberpihakan kepada mereka yang terpinggirkan dan sengsara. Beliau memilih pulau kecil Lampedusa di Italia selatan sebagai tempat pertama yang dikunjungi sebagai Paus. Pulau itu adalah saksi drama kemanusiaan yang memilukan: perjuangan dan kesengsaraan para imigran, tidak jarang berujung pada kematian. Di situ, Bapa Suci menyerukan antara lain agar globalisasi di masa ini tidak menjadi sebuah globalisasi ketidakpedulian.

Kami juga bersyukur bahwa tahbisan ini ditandai oleh dua peristiwa besar lain: peringatan 150 tahun kelahiran Rama Franciscus van Lith dan 90 tahun Kolese St. Ignatius (Kolsani). Rama van Lith dan Kolsani berperan besar dalam memperkembangan iman dan imam di Indonesia. Rama van Lith adalah seorang misionaris besar yang menjadi salah satu pilar penting Gereja di Jawa. Beliau tidak kenal lelah untuk bertemu dan menyapa umat dan dengan begitu mengembangkan iman dan hidup Gereja. Pribadi yang rendah hati karena dalam segala jatuh bangun kerasulannya, tetap mampu menempatkan bahwa bukan dirinyalah yang utama. Dirinya mesti menjadi seperti lilin yang meleleh karena harus menyala bagi Tuhan! Pada akhirnya, memang Kristus dan GerejaNyalah yang utama!

Kolese Santo Ignatius sebagai rumah studi teologi para frater, selama 90 tahun tidak hanya berpuas diri dengan belajar teologi di dalam tembok rumah. Sebaliknya, dalam sejarahnya Kolsani berani keluar untuk berperan dalam pastoral di stasi-stasi desa di DIY. Dalam perkembangannya, pada tahun 1960-an Kolsani mulai mengarahkan perhatian pada keprihatinan sosial di Yogyakarta dengan mengelola rumah singgah di Pingit. Pada saat pembaruan Gereja melalui Konsili Vatikan II, Kolsani menjadi salah satu pusat inkulturasi. Kolsani dengan rendah hati mencoba menerjemahkan berbagai traktat teologi-filosofi yang kadangkala muluk dan abstrak menjadi bahasa sederhana-konkret-kontekstual yang bisa dipahami umat dan dengan demikian membangun umat.

Itu semua, Bapa Suci Benediktus XVI dan Bapa Suci Fransiskus, Rama van Lith dan Kolsani, adalah dinamika sejarah yang membawa kenangan sekaligus tantangan untuk mengejawantahkannya kembali di masa kini. Memasuki kehidupan imamat, kami terinspirasi dan tertantang untuk melakukan pelayanan pastoral yang handal, penuh kemurahan dan kerendahan hati seperti yang mereka lakukan. Dan kami juga tersadar bahwa untuk melakukan semuanya itu, diperlukan kedalaman hidup rohani, keakraban dengan Kristus sendiri, integritas diri, serta kecintaan kepada Gereja. Kedalaman kehidupan rohani itulah yang menjadi sumber kekuatan dalam melakukan semua aktivitas pastoral tersebut.

Di sisi lain, kami juga selalu tersadar bahwa bagaimanapun, harta yang kami bawa ini berada dalam bejana tanah liat. Kami ini tetap manusia yang tidak luput dari berbagai kerapuhan dan dosa. Namun, justru di situlah rahmat Allah yang menyokong dan menguatkan menjadi semakin nyata.

Ajarilah Kami Menjadi Pelayan dan Sahabat bagi Sesama

Dari permenungan bersama, yang dikuatkan oleh pribadi dua Bapa Suci, Rama Van Lith dan sejarah Kolsani serta kesadaran diri akan kerapuhan kami, kami merumuskan tema “Ajarilah kami menjadi Pelayan dan Sahabat bagi Sesama”. Beberapa pokok yang kami refleksikan dari tema tersebut adalah sebagai berikut.Doa. Kalimat tema ini kami ucapkan dalam konteks doa karena kami sadar bahwa kehidupan doa dan keakraban dengan Yesus sendiri adalah inti terpenting dalam hidup imamat kami. Hidup imamat kami ini bukan hanya berasal dari daya-daya manusiawi, melainkan selalu ditopang oleh daya dan rahmat Ilahi. Di situlah keakraban dengan Yang Ilahi melalui doa menjadi begitu fondamental. Dalam doa ini kami memohon “Ajarilah”. Di situ kami memohon agar dididik terus menerus oleh Allah di dalam hidup imamat ini. Doa “Ajarilah” ini juga mengingatkan kami pada pengalaman St. Ignatius di Manresa ketika Allah sendiri mendidiknya seperti seorang guru pada muridnya.

Berproses terus menerus.

Panggilan menjadi seorang imam bukanlah sekali jadi. Sebaliknya, hidup imamat adalah sebuah proses. Karena itu, kami memilih kata “menjadi” untuk menunjukkan sebuah proses dinamis yang masih terus kami gumuli. Di dalam proses ini pula seorang imam akan terus melakukan habituasi dari cara hidup Yesus sendiri di dalam dirinya. Di sini terletak pula makna penting dari on going formation, formasi berkelanjutan. Seorang Yesuit harus mampu dan mau untuk terus menerus belajar dan dibentuk berdasarkan tuntutan yang ada.

Melayani

Panggilan menjadi seorang imam tidak bisa tidak adalah melayani umat Allah. Sebagaimana Yesus mengatakan “Anak manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mat 20:28). Di sinilah kami senantiasa diajak untuk keluar dari diri sendiri dan memberikan diri kepada orang lain. Tentu saja hal ini tidaklah begitu saja mudah. Sebagai Yesuit, kami juga terus memohon untuk menjadi pelayan-pelayan Perutusan Kristus. Di sini pula kami mengingat mistik La Storta St. Ignatius, ketika dia ditempatkan bersama Sang Putra yang sedang memanggul salib. Melayani berarti menempatkan diri di bawah salib Kristus, bersama Yesus yang sedang bekerja memanggul salib. Kami memohon agar sungguh menjadi hamba-hamba yang setia di bawah panji salib dan di bawah pimpinan wakil Kristus di dunia demi kemuliaan-Nya yang lebih besar (bdk. KJ 34, 1). Melayani, sama seperti Ignatius, berarti mencintai dunia dan mencari kehendak-Nya di dunia.

Sahabat

Tugas melayani ingin kami daratkan dengan menjadi sahabat bagi orang-orang yang kami layani. Oleh karenanya, kata yang dipilih adalah “sahabat”, adalah companion yang dari asal katanya terkandung makna berbagi roti. Dengan menjadi sahabat, kita dipanggil untuk berbagi duka dan harapan, kegembiraan dan kecemasan dengan orang-orang yang kami jumpai dalam keseharian. Kata sahabat tentu menunjukkan kedekatan, dan dengan demikian menunjukkan kesetaraan, juga kerendahan hati dari seorang imam. Konsep sahabat kami ambil dari Injil Lukas 10: 25-37 yang menunjukkan Sahabat Cinta. Sahabat yang memiliki belaskasihan, tergerak oleh kasih, yang mau menopang, mengantarkan, merawat, dan bertanggung jawab terhadap yang menderita, terluka, dan tersingkirkan. Imam sebagai Sahabat Cinta merupakan seorang imam yang tidak melihat dan menghindar dari yang menderita.

Sesama

Panggilan kami menjadi seorang imam akan sia-sia bila tidak ditujukan kepada sesama. Seperti pertanyaan seorang ahli Taurat kepada Yesus yang dicatat oleh Lukas, “Siapakah sesamaku manusia?” (Luk 10:29), manusia dipanggil untuk menjadi sahabat bagi sesamanya , sebagaimana Yesus memberi perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati (Luk 10: 25-36). Sesamaku bukan hanya orang yang menemani, namun yang ikut berjuang dalam penderitaan karena tergerak oleh belaskasihan. Sesamaku juga merupakan teman dalam perutusan, dalam melanjutkan tugas/misi Kristus di dunia.

Identitas kuat agar menjadi Rasul yang sebenarnya

Demikianlah tema yang kami pilih untuk menemani tahbisan imamat kami ini. Demikianlah rahmat dan dambaan yang ingin kami mohonkan dalam menghidupi imamat ini. Demikianlah semangat yang ingin kami timba ketika kami nanti merasul dan mewartakan kabar gembira di dunia modern ini. Kami ingin terus-menerus membangun keakraban, intimitas dengan Kristus sendiri melalui hidup doa. Selanjutnya, kami ingin bergerak keluar kepada sesama kami, menjadi pelayan dan sahabat bagi mereka sebagai seorang imam, seperti ditunjukkan oleh van Lith, oleh Kolsani dan juga oleh Bapa Suci. Dalam semuanya itu, kami terus membutuhkan pertobatan terus-menerus karena berbagai kelemahan dan kerapuhan manusiawi kami.

Demikianlah, semoga nama Tuhan semakin dimuliakan!***