Santapan Batin 77

Ketika itu usiaku baru enam belas tahun dan aku bekerja di bagian pengepakan bahan makanan di Boys Market di Gardena, pinggiran kota Los Angeles. Saat itu tahun 1950-an, dan di masa itu toko grosir menggunakan dus karton untuk mengemas barang-barang yang berat. Kukira semuanya baik-baik saja, sampai di akhir hari pertama, ketika manajernya mengatakan bahwa besok aku tidak usah kembali lagi. Aku kurang gesit bekerja. Aku anak yang sangat pemalu, dan kaget sendiri ketika menjawab dengan penuh semangat, “Izinkan aku kembali besok dan mencoba sekali lagi. Aku tahu bahwa aku bisa bekerja lebih baik!” Berbicara lantang begitu sebetulnya bukan sifatku, tetapi ternyata berhasil. Aku diberi kesempatan sekali lagi, bekerja jauh lebih cepat, dan selama satu setengah tahun mengemas bahan makanan dari pukul 4 sampai pukul 10 pada hari kerja dengan upah $1,25 per jam dan kadang-kadang bekerja lembur sepanjang hari pada hari Sabtu dan Minggu.

ruangkumemajangkarya.wordpress.com
ruangkumemajangkarya.wordpress.com

Saat ketika aku berbicara lantang kepada manajerku itu sangat berbekas dalam ingatanku, dan begitu juga pelajaran yang kupetik: Jika kita ingin berhasil dalam bidang apa pun dalam hidup ini, kita tidak bisa hanya berpangku tangan dan berharap sukses itu akan datang sendiri. Kita harus mengusahakannya agar terwujud. Aku bukan atlet berbakat ketika belajar karate, namun aku berlatih lebih keras dibandingkan dengan siapa pun, dan berhasil menjadi juara kompetisi karate dunia kelas menengah selama enam tahun. Kemudian, ketika aku memutuskan untuk menjadi aktor, usiaku tiga puluh enam tahun dan tidak punya pengalaman. Waktu itu mungkin ada sekitar enam belas ribu aktor penganngguran di Hollywood, dan aku harus bersaing dengan orang-orang yang sudah pernah bermain dalam film atau di TV. Jika pada waktu itu aku berkata, “Aku tidak mungkin bisa,” satu hal akan sangat jelas: Aku tidak akan pernah bisa. Orang sering merengek, “Aku belum sukses karena belum memiliki kesempatan.” Kita harus menciptakan peluang sendiri. (Chuck Norris)

Dikutip dari Hatch, David K, Everyday Greatness (Inspirasi untuk Mencapai Kehidupan yang Bermakna), Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007, hal. 92