Kolsani 1993 hingga 2013

Kolsani menjadi rumah bagi orang-orang muda yang mau menjadi Yesuit. Kolsani berdiri dari tahun 1923. Ketika pertama kali berada di Kolsani, pintu masuk Kolsani masih berada di Jalan Nyoman Oka. Baru sekitar tahun 1975, pintu masuk Kolsani berada di Jalan Abubakar Ali. “Ruang perpustakaan pun baru resmi menempati gedung baru pada tahun 90-an. Sebelumnya perpustakaan berada di sepanjang ruang tamu pada bangunan Kolsani saat ini,” kata Romo Kieser.

Latar Belakang Ekonomi-Sosial-Politik

Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir ini, Kolsani berjalan seturut dengan dinamika bangsa dan masyarkat Indonesia. Salah satu peristiwa penting dalam rentang waktu 1993 – 2013, yang tidak akan luput dari catatan sejarah Indonesia, adalah apa yang terjadi pada tanggal 20 Mei 1998. Saat itu terjadi demonstrasi besar-besaran di beberapa kota di Indonesia. Mahasiswa turun ke jalan untuk menuntut adanya ‘perubahan’ atau reformasi dalam sistem politik dan pemerintahan di Indonesia. Aksi demonstrasi besar-besaran juga terjadi Yogyakarta. Menurut penuturan Romo Opzeeland, pada hari Rabu, 4 September 2013, pukul 08.00, suasana kota Yogyakarta tampak sangat tegang sekali. Pada tanggal itu, seluruh mahasiswa dari berbagai macam universitas berkumpul menjadi satu di Alun-alun Utara Yogyakarta. Saat itu, ada beberapa frater dari Kolsani yang mengikuti demonstrasi tersebut, sebagai wakil dari Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma. Mereka ikut turun ke jalan untuk mengadakan demonstrasi guna memerangi korupsi dan nepotisme di pemerintah. Dalam kerjasama dengan para pelajar mahasiswa/i Muslim, para teologan Kolsani juga mengadakan aksi membagi-bagi beras kepada orang-orang miskin yang membutuhkan. Demonstrasi sendiri dipimpin oleh Sri Sultan HB X. Di Yogyakarta juga terjadi perusakan fasilitas-fasilitas publik. Penjarahan pun nampak terjadi di mana-mana, salah satunya di sepanjang Jalan Solo. Namun, Kolsani aman terkendali, tidak terkena dampak dari perusakan-perusakan. Rumah Kolsani bahkan dibuka untuk siapa saja yang memiliki kehendak baik demi pemulihan situasi di Indonesia. Pada masa krisis moneter itu, kondisi perekonomian Indonesia menjadi tidak stabil. Nilai rupiah merosot tajam terhadap dollar. Banyak nilai saham yang anjlok. Menurut penuturan Romo Opzeeland, krisis moneter tidak memberikan dampak yang besar bagi Kolsani, hanya saja terdapat kesulitan dalam mencari beberapa bahan makanan.

Pada saat krisis moneter berlangsung, tepat pada hari Rabu, tanggal 18 Februari 1998, Kolsani merayakan Peringatan HUT ke-75. Perayaan Ekaristi itu dilaksanakan di Gereja St. Antonius Kotabaru dengan selebran utama Romo Paulus Wiryono Priyotamtama, selaku Romo Provinsial, dan didampingi oleh Rektor Kolsani saat itu, Romo Paulus Suparno, serta ketua panitia Jubileum Kolsani, yaitu Romo GP. Sindhunata. Dalam perayaan ekaristi tersebut, komunitas Kolsani diajak untuk merefleksikan tugas ke depan yang tidak ringan. Di tengah perkembangan zaman dan perubahan situasi, Kolsani ditantang untuk tidak pernah surut dalam menyumbangkan dirinya. Kolsani dituntut untuk senantiasa menyatakan komitmen dan keprihatinan Serikat Yesus akan keadilan dan perjuangan kemanusiaan (bdk. Panduan Perayaan Ekaristi Peringatan 75 Tahun Kolese St. Ignatius, 1998, hal. 21).

Dalam perkembangannya, kepedulian Kolsani terhadap persoalan-persoalan keadilan dan perjuangan kemanusiaan dapat terlihat, misalnya, dalam peran serta keterlibatan Kolsani pada masyarakat sekitar. Pada peristiwa bencana alam gempa bumi di tahun 2006 serta letusan Gunung Merapi di tahun 2011, Kolsani menjadi salah satu posko bantuan bagi para korban. Refter Kolsani diubah menjadi dapur umum untuk mengolah makanan menjadi beberapa nasi bungkus guna disalurkan ke beberapa titik pengungsian para korban. Para frater dibantu oleh beberapa relawan-relawati bekerja keras untuk memasak bersama guna tersedianya nasi-nasi bungkus bagi korban bencana alam. Gerak maju Kolsani tentu tak dapat dilepaskan dari perkembangan jaman.

Dalam jaman yang dapat disebut sebagai millenium baru, para Yesuit di Kolsani pun tidak luput dari dampaknya. Salah satu bentuknya adalah globalisasi lewat perkembangan teknologi informatika. Kolsani, sebagaimana Yesuit Provindo pada umumnya, pun dihadapkan pada tantangan ‘ngeli tanpo keli’ atau ‘ikut melibati tanpa harus hanyut terbawa arus’. Terkait dengan ini, dikatakan bahwa: Provinsi kita (i.e. Serikat Yesus Indonesia) tidak begitu ketinggalan dalam teknologi informasi modern. Romo Alex Wijoyo tentu banyak berjasa dalam mengembangkan website www.provindo.org dan fasilitas internet serta email (surat elektronik) untuk komunikasi antar kita. Yesuit Indonesia di seluruh dunia disatukan dalam informasi dan komunikasi berkat mailing-list Internos (Bdk. Internos, Edisi III/Juni-Juli-Agustus 2001, hal. 13).

Dalam kurun waktu 1993-2013, bangunan fisik Kolsani mengalami sejumlah renovasi. Perbaikan ruang rekreasi Patres dan Frater dengan warna cat dan perkakas meubelnya yang baru merupakan sebagian contohnya. Di samping itu, ada pula renovasi dan modifikasi untuk kamar-kamar tamu, sedemikian rupa sehingga sekarang, di tahun 2013 ini, tanpa terlalu mengubah bangunan awal, para tamu dapat menikmati tambahan fasilitas kamar mandi dalam. Lepas dari renovasi-renovasi tersebut di atas, bangunan fisik Kolsani sebenarnya dapat dikatakan tidak mengalami perubahan yang signifikan.

Akan tetapi, meskipun bangunan fisik tampak tak berubah, perkembangan cukup signifikan tampak dalam hal jaringan komunikasi. Wujudnya adalah semakin berkembangnya media dan fasilitas-fasilitas komunikasi dalam berbagai model. Di Kolsani sendiri, sekitar tahun 2005-2006, fasilitas jaringan internet sudah mulai dapat dinikmati oleh para Romo dan Frater di kamar masing-masing. Setiap anggota komunitas memiliki sendiri-sendiri alat komunikasi tersebut, tidak seperti dulu bahwa satu alat komunikasi dipergunakan untuk bersama-sama.

Tantangan Eksternal dan Internal

Lalu apa saja tantangan-tantangan internal yang harus dihadapi dalam jaman dengan ciri-ciri eksternal seperti tersebut di atas? Pergulatan hidup rohani adalah salah satu di antaranya. Memang pola dan mekanisme untuk membangun komitmen hidup rohani tetaplah sama; tidak ada yang berubah.

Romo Opzeeland menuturkan bahwa masing-masing pribadi di Kolsani memiliki kebebasan untuk mengatur hidup rohaninya sendiri-sendiri. Hidup rohani merupakan tanggung jawab masing-masing pribadi, komunitas hanya memberikan sarana dan fasilitas demi terjaganya kehidupan rohani dan syukur-syukur dapat menjadi lebih baik. Di luar masa libur, adanya perayaan ekaristi komunitas, visit ke kapel setelah makan siang, bimbingan rohani, dan rekoleksi bersama secara rutin, termasuk Pekan Spiritualitas dan Bulan Imamat serta retret 8 hari, menjadi sarana yang dari dulu sampai sekarang masih berjalan. Masih ada pula, sejak 2012, kegiatan rohani tak wajib dalam bentuk doa Completorium setiap hari Rabu malam (22.00 – 22.15). Belum lagi dengan mekanisme-mekanisme yang terkondisikan dari Provindo, seperti misalnya Rekoleksi Provinsi di setiap hari Nyepi.

Kiranya, ke depan, kegiatan-kegiatan dengan pola semacam itu masih akan terus berjalan. Semua itu dapat dimaknai sebagai kegiatan yang oleh Romo Kieser disebut dengan istilah ‘in-ekstra’. Kegiatan-kegiatan in-ekstra mempersiapkan komunitas Kolsani untuk semakin merasa dekat dan menjadi pribadi yang mampu membawa iman kristiani ke hati orang lain. Bagi Romo Kieser, Yesuit sendiri adalah orang yang menyediakan diri untuk membantu orang lain guna beriman Kristiani. Dalam perannya sebagai sarana untuk mawas diri bagi masing-masing anggota Kolsani, kegiatan-kegiatan in-ekstra seperti itu dapat menjamin serta menopang kehidupan rohani komunitas ke arah ‘lebih baik’. Akan tetapi mengingat tawaran-tawaran yang muncul tampak semakin banyak, maka kualitas dan kompleksitas tantangannya pun tentu semakin bertambah.

Perbedaan konteks dan situasi jaman membuat orang tersadar bahwa, dalam arti tertentu, tantangan untuk membangun komitmen hidup rohani di jaman dulu dan di jaman sekarang agak sulit untuk dibandingkan. Tantangan yang lain terkait dengan hidup komunitas. Kehidupan komunitas Kolsani sendiri memiliki dinamika yang khas. Romo Sindhunata mengatakan bahwa, dahulu ketika masih menjadi imam muda, beliau merasa lebih mudah untuk bergaul dengan frater. Alasannya dapat ditilik dari minat dan ‘bahasa’ yang masih sama, termasuk juga karena belum terlalu terbebani dengan tanggungjawab pekerjaan yang berlebihan. Dahulu, dalam usia muda, relasi antar pribadi terasa lebih mudah terbangun. Sekarang ini, dengan adanya rentang usia yang semakin berbeda di antara para Romo dan para frater, apalagi ‘dunianya’ juga berbeda, maka kedalaman relasi antar pribadi pun memperlihatkan corak yang baru. Sebelum tahun 2000, misalnya, rekreasi bersama di antara para frater jauh lebih mudah terjadi, namun kini dengan masuknya komputer serta internet ke dalam kamar, perjumpaan antar pribadi dalam suasana rekreasi boleh jadi menjadi lebih terbatas. Demikianlah, kemajuan media komunikasi memberi dampak yang cukup signifikan bagi kehidupan berkomunitas. Hubungan dalam hidup berkomunitas sehari-hari dapat dengan mudah berjalan; interaksi dengan dunia luar pun dapat semakin lancar dan hubungan satu sama lain dapat menjadi lebih erat. Tentu saja kebalikannya dapat terjadi pula. Para frater memiliki ruang rekreasi sendiri sebagai sarana dan fasilitas bagi mereka untuk berkumpul dan mengadakan sharing pengalaman sehari-hari. Personalia para frater pun, setiap tahunnya, berubah. Ini agak berbeda dengan personalia para patres yang relatif lebih tetap. Relasi antar Patres sendiri terbantu dengan adanya kesempatan di setiap malam, bagi para romo dan bruder, baik yang yunior maupun yang senior, untuk berkumpul dalam rekreasi bersama. Rekreasi pada malam hari tersebut nyatanya menjadi sarana untuk saling bertukar pikiran dan pengalaman serta berbagi komunikasi satu sama lain. “Ruang rekreasi frater dan patres terpisah; namun kami tetap menjadi sebuah kesatuan, yaitu Kolsani,” kata Romo Opzeeland.

Namun tentu saja kehidupan komunitas tidak hanya terbangun lewat rekreasi saja. Adanya proyek-proyek bersama juga mendukung proses kehidupan komunitas. Termasuk di dalamnya adalah pekerjaan demi pelayanan bersama, seperti memasak atau menyiapkan hidangan pada hari libur, dan membersihkan serta menghangatkan sarapan pagi bagi komunitas setiap harinya. Memang hal ini baru berjalan sekitar 10 tahun-an terakhir. Pada hakekatnya, komunitas sendiri merupakan sebuah tugas yang harus terus menerus dibina; dan di Kolsani sarana-sarana untuk membina komunitas itu selalu ada. Acara rutin makan siang bersama, pertemuan bulanan, baik antar formator maupun antar anggota komunitas, menjadi mekanisme-mekanisme yang dirasa amat efektif, sedemikian rupa sehingga, dengan bangga Kolsani dapat berkata bahwa, selama kurun waktu 1993-2013, tidak pernah terjadi pertentangan atau konflik yang signifikan. Banyak anggota datang dan pergi dalam komunitas Kolsani, namun adanya habitus dalam Kolsani membuat siapa pun yang datang di rumah ini menjadi ikut dalam irama yang telah tercipta.

Kegiatan-kegiatan yang terbangun dalam komunitas Kolsani tidak harus sesuai dengan Spiritualitas Ignasian, namun harus sesuai dengan realitas yang ada di masyarakat. “Kita harus melihat dahulu kondisi ladang yang akan kita tanami, agar bibit tanaman yang kita tanam dapat bertumbuh subur dan berbuah,” kata Romo Kieser. Keseluruhan kegiatan yang dilakukan di Kolsani selayaknya pula menantang komunitas untuk mengembangkan diri agar benar-benar menjadi Yesuit, khususnya bagi para frater yang kelak akan menjalani tugas pelayanan baru sebagai seorang Romo. “Karya-karya yang dikerjakan oleh komunitas Kolsani harus dikembalikan lagi pada makna dari Yesuit itu sendiri, yaitu untuk membantu dan membawa iman Kristiani ke hati orang lain,” kata Romo Kieser lebih lanjut.

Tantangan selanjutnya terkait dengan hidup karya. Menurut Romo Sindhunata, hidup karya dapat dibagi menjadi dua, yaitu kehidupan karya para Romo (dan bruder) serta para Frater. Beberapa Romo, dan mungkin sebagian besar Romo di Kolsani, bergulat dalam karya sebagai dosen di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma. Pada tahun 1968, ketika kuliah Teologi dipindah dan dijadikan satu dengan seminaris Praja di Kentungan, para Romo harus bolak-balik dari Kolsani ke Kentungan. Mulai tahun 1972, para Romo yang mengajar sebagai dosen atau para Frater yang belajar di Kentungan, baru memakai kendaraan. Demikianlah perkembangannya, mulai dari memakai sepeda onthel – sampai sekarang pun Romo Kieser masih setia mengendarai sepeda – lalu mulai naik vespa (yang sampai sekarang masih digunakan oleh para Frater), hingga akhirnya Kolsani memiliki mobil sebagai kendaraan bagi para Romo yang akan berangkat mengajar dan pulang dari Kentungan.

Di samping dunia pengajaran, ada bentuk karya-karya lain yang ditangani oleh romo-romo di Kolsani, seperti: perpustakaan, majalah, hal-hal ke-minister-an, bimbingan rohani dan retret, pelayanan di penjara. Ini menjadi salah satu keistimewaan komunitas Kolsani! Walaupun Kolsani merupakan rumah formasi, namun para Romo juga berkarya dalam aneka bidang. Hidup karya memiliki bebannya sendiri, namun para Romo berupaya untuk tidak pernah melupakan bahwa mereka adalah bagian dari komunitas Kolsani; merekapun selalu mencoba untuk menjalin ikatan kebersamaan dengan ‘saling duduk bersama’. Romo Opzeeland berkata, “Sebagai sebuah komunitas, komitmen terhadap hidup karya dan hidup komunitas harus berjalan dengan seimbang. Masing-masing tetap berusaha meluangkan waktunya dan kembali pada ‘basis’ rumah ini.”

Bagaimana dengan para frater? Tugas utama mereka di Kolsani memang belajar Teologi; namun dalam prosesnya, mereka juga diajak untuk belajar melibatkan diri dalam karya tertentu. Perkembangan jumlah teologan yang masuk ke rumah Kolsani turut mempengaruhi karya-karya yang ditawarkan untuk ditangani oleh frater-frater Kolsani. Beberapa frater aktif dalam kegiatan sosial YSS, beberapa lainnya ikut membantu menangani majalah Rohani. YSS merupakan karya milik Kolsani. Sementara itu, majalah Rohani, meskipun lahir dari Kolsani, telah diangkat ke tataran karya Provinsi Serikat Yesus Indonesia, sebagai wahana untuk pendampingan spiritualitas bagi kaum religius di seluruh Indonesia lewat tulisan. Dengan status itu, meskipun penanganannya dititipkan ke Kolsani, Kolsani perlu juga mempertanggungjawabkan majalah Rohani ke Provinsi Serikat Yesus Indonesia. Lewat kegiatan-kegiatan tersebut, para frater teologan diharapkan semakin dapat mengolah diri terhadap dunia luar. Kegiatan ad-ekstra dipersiapkan untuk mengasah pribadi para anggota komunitas Kolsani untuk semakin peka terhadap dunia sekitar. Di samping YSS dan Rohani, dua karya yang ‘wajib’ mendapat perhatian dan penanganan dari frater-frater Kolsani, masih ada pula beberapa bentuk karya lain. Ada frater yang menjadi pendamping CLC, atau pendamping kelompok kategorial paroki Kotabaru, atau bahkan mengajar di USD. “Kegiatan pembinaan, atau pendampingan kaum muda, atau menjadi guru agama pun, dapat dikategorikan sebagai kegiatan ad-ekstra,” kata Romo Kieser.

Apa pun bentuk pelayanan karyanya, entah itu yang ditangani para Romo atau para frater, semuanya harus dimaknai sebagai buah karya dari komunitas Kolsani. Dan itu jelas tidak akan terbangun tanpa adanya sikap saling mendukung dari komunitas. Sikap saling mengisi dan memperkaya satu sama lain merupakan bentuk dukungan yang paling konkret; dan nyatanya itu membuat hidup karya dapat lebih mudah tertangani. Adanya kekompakan satu sama lain menjadikan Kolsani sebagai rumah formasi terasa semakin kuat. Dan, sekali lagi, ini memberi nilai plus yang semakin memperkokoh komunitas ini. “Saya happy dalam komunitas ini!” kata Romo Sindhunata. Kolsani merupakan sebuah rumah formasi, sedemikian rupa sehingga komunitas harus memberikan diri untuk maksud formasi; tetapi itu juga harus berjalan seiring dengan arah karya-karya yang digeluti selama ini.

Tantangan berikutnya berhubungan dengan hidup studi, mengingat keberadaan Kolsani sendiri, selain sebagai rumah formasi, juga merupakan House of Studies. Kolsani sebagai rumah studi disibukkan dengan segala macam aktivitas yang berhubungan dengan ‘kerja otak’. Tanggung jawab pada pengolahan hati dan batin masing-masing pribadi sebagai tangan Tuhan masih dirasa perlu ditingkatkan. Inilah tegangannya. Bagaimanapun komunitas Kolsani memang dihadapkan pada satu tugas utama yaitu studi. Sebagai pribadi, setiap anggota Kolsani perlu mengalahkan kemalasan, keengganan, keacuhan, demi satu fokus, yaitu studi. Adanya berbagai macam tawaran yang datang harus menjadikan warga atau penghuni Kolsani lebih terpacu untuk mengejar keunggulan dan sekaligus kedalaman. Kuncinya satu, tetap fokus pada studi dan bukan pada minat-minat lain, termasuk bukan pada tugas-tugas lain seperti ad-ekstra. Ini sesuai pula dengan apa yang dikatakan oleh Pater Jendral Serikat Yesus tentang arti ‘kedalaman’. Semakin banyaknya fasilitas dan media informasi dari luar dapat membuat orang kurang mendalam dalam membuat eksplorasi atas suatu persoalan. Rupa-rupanya semua pihak perlu waspada tentang hal ini, tak terkecuali anggota komunitas Kolsani. Studi menjadi tantangan yang berat justru karena seluruh proses studi yang didangkalkan oleh banyak hal itu menuntut kedalaman yang jauh melebihi daripada dulu. Ini sungguh merupakan tantangan yang tidak ringan! Spiritualitas Ignasian tidak dapat dijadikan patokan bahwa warga Kolsani seolah-olah telah mencapainya. Spiritualitas Ignasian yang dinamis justru menyadarkan bahwa warga Kolsani tetap perlu terus bergulat. Jadi spiritualitas Ignasian menuntut warga Kolsani untuk terus maju, sambil membangun kerangka pandang bahwa semuanya masih berupa cita-cita bersama yang harus diraih. Dengan kata lain, adanya berbagai macam sarana dan kegiatan yang tersedia harus mendorong warga Kolsani untuk memanfaatkan semua itu demi tercapainya peningkatan yang ‘lebih’. Kolsani diharapkan tetap relevan sebagai rumah formasi, dan pada saat yang sama harus terus memacu diri untuk menjadi semakin unggul seturut tanggungjawab yang diserahkan kepada para warganya lewat aneka keterlibatan, agar akhirnya Kolsani pun dapat ‘lulus’ dari aneka tantangan yang datang setiap waktu.

Kolsani mendapat tantangan dari luar yang menyebabkan komunitas harus terus membaharui diri. Tantangan dari luar sendiri jauh lebih kompleks, tidak seperti dulu. Lalu Yesuit yang datang sekarang ini, generasi tahun 2000 ke atas, merupakan anak jaman sekarang. Banyak hal berubah, dan itu membuat komunitas Kolsani juga harus ikut membaharui diri sesuai dengan dinamika jaman. “Kalau kita tidak berubah, njur piye? Justru kalau Kolsani tidak berubah, itu menjadi lucu!” kata Romo Sindhunata. Berani berubah itulah yang justru menjadi tantangan bersama, agar Kolsani tetap menjadi ‘muda’. Ada harapan bahwa mereka yang datang sekarang mampu memberikan suntikan baru kepada yang ‘tua’ atau ‘lama’ dalam kesadaran bahwa jaman telah berubah, sedemikian rupa sehingga mereka yang ‘tua’ berani menyadari bahwa kini bukan waktunya lagi untuk memaksakan diri. Menurut Romo Sindhunata, inilah tantangan mendesak yang dihadapi oleh Kolsani, “Bagaimanakah kita dapat menata perubahan-perubahan yang ada dan siap untuk menghadapinya? Kita tidak dapat lagi melangkah dengan norma lama; dan karena ini tidak mudah, maka siapa saja wajib untuk terlibat aktif dan berpartisipasi!”

Sebuah komunitas juga harus mampu peka dengan dunia luar. Begitu pula dengan komunitas Kolsani. Sebagai sebuah komunitas, Kolsani sekarang mengusahakan untuk menjadi lebih terbuka pada dunia luar. Wujudnya adalah bahwa Kolsani lebih terbuka dalam menerima tamu-tamu dari luar, agar dengan demikian pihak-pihak lain pun lebih tahu mengenai rumah Kolsani. Kolsani menjadi berbeda dengan rumah-rumah Yesuit lainnya. Menurut Romo Opzeeland, selain sebagai rumah formasi dan rumah studi, Kolsani dapat pula disebut sebagai Taman Firdaus di tengah kota. “Rumah ini begitu bagus dan hebat!” kata beliau. Kolsani mampu memberikan kesejukan dan keteduhan bagi penghuninya. Oleh karenanya penghuni Kolsani harus turut bertanggung jawab atas rumah ini. Diharapkan dengan adanya tata kehidupan bersama di Kolsani, para anggota komunitas dapat semakin akrab dan menjadi satu kesatuan yang utuh.

Hendaknya Kolsani juga semakin terbuka dengan dunia luar, sedemikian rupa sehingga ‘kekayaan’ yang ada di Kolsani semakin bisa terbagikan ke masyarakat sekitar. Dengan seluruh kecukupan fasilitas yang ada di Kolsani, setiap anggota komunitas diharapkan tidak menurunkan rasa tanggungjawabnya, tetapi justru membuat tergerak untuk lebih menghayati hidup miskin sebagai Yesuit. Romo Opzeeland melontarkan pertanyaan reflektif, “Apakah kita sungguh sudah bekerja keras? Apakah kita sudah memiliki tanggung jawab itu?” Romo Kieser pun menimpali, “Bukan waktunya lagi bagi kita untuk merefleksikan kesalahan-kesalahan yang dahulu pernah kita lakukan, akan tetapi bagaimanakah kita sebagai komunitas, sebagai seorang Yesuit, mencari sesuatu yang lain dengan melihat peluang-peluang yang ada, di masa depan, guna membawa iman Kristiani ke hati orang lain!” (JB. Heru Prakosa, SJ)