Santapan Batin 84

Vera tidaklah bodoh. Dia sebenarnya cukup cerdas. Namun, mengapa dia memilih untuk tidak meneruskan kuliah? Apakah karena nasib buruk menimpanya? Apakah dia memang sedang tak beruntung? Berbagai pertanyaan dan gugatan sekitar itu sering muncul. Bahkan, dalam perjalanan waktu, satu-dua tahun, pertanyaan itu selalu saja muncul. Bagi Vera, ini bukan soal nasib, bukan pula soal ketidakberuntungan. Ini semata-mata soal pilihan. Vera tahu diri. Dia anak pertama dari empat bersaudara. Kedua orangtuanya adalah guru. Kita semua tahu berapa gaji guru, dan mengetahui pula bahwa tidak mudah menyangga kehidupan keluarga dengan profesi itu. Di tengah perjalanan, adik nomor tiga jatuh sakit, dan dia harus keluar-masuk rumah sakit. Beban yang sudah berat, semakin berat lagi. Beban berat dan menyakitkan itu sebenarnya hanya mau dirasakan dan dikeluhkan oleh kedua orangtuanya. “Biarlah kepedihan ini menjadi bagian dari kepedihan kami berdua,” kata orangtuanya. Namun Vera, anak sulung, tak bisa menutup hati terhadap kepedihan orangtuanya. Dia memang masih muda, belum berusia 20 tahun ketika itu. “Bolehkah aku ikut sedikit mengangkat beban?” tanyanya kepada kedua orangtuanya. Orangtuanya bertanya-tanya apakah yang mau dilakukannya. Lebih baik aku mengalah untuk tidak mendapatkan pendidikan terbaik, agar beban orangtua tidak semakin membengkak. Pendidikan terbaik memang berarti biaya. Ada memang yang tak terlalu tinggi mencekik, tetapi jarak yang jauh berarti pula ongkos yang tidak sedikit. Namun, masa depan lebih berarti daripada peluh dan jerih payah orangtua. Karena itu, kedua orangtuanya menyatakan penolakan. Vera, gadis yang sering berekor kuda ini, tetap berkeras hati. Baginya, sekolah bukanlah masalah yang utama. Belajar disa didapatkan di mana saja, asal mau mengembangkan diri secara terus-menerus. Apalagi, dia mengutip pepatah yang pernah diperkenalkan kepadanya, “Non scholae sed vitae discimus.” Belajar bukan sekedar untuk sekolah ataupun gelar, tetapi belajar untuk hidup.

Dikutip dari Cahyadi, Krispurwana, Belajar dari Sahabat Muda, Jakarta, Penerbit Obor, 2004, 54-55