Santapan Batin 85

Sepasang muda-mudi itu beranjak pergi ketika gerimis reda. Pedagang dawet itu tetap duduk di tempat yang sama, bersama gerobaknya. Langit masih murung. Gerimis sesekali masih turun. Pedagang dawet ditingkahi keraguan dan bimbang. Sungguh, ia berjuang keras pada yang ia pinta kepada Tuhannya: beroleh kesegaran. Ketika langit sedikit terang, harapan pun menyentuh kalbunya. Hatinya bungah. Tetapi hari itu tak secerah hari-hari kemarin. Penjual dawet itu berjuang merawat harapannya dengan bungah. Seorang yang biasa membeli dawetnya datang. Ia memesan dawet. Sambil menikmati dawet pembeli itu berkata, “Yu, mbok jangan menjual dawet saja.” Sambil tersenyum penjual dawet menjawab, “Lha. harus menjual apa lagi? Cuma ini yang saya bisa.” “Maksudku, ya tetap menjual dawet. Tapi juga ada yang lain sebagai bahan jualanmu.” “Wah, jualan apa ya?” “Mbok ditambah jualan penganan kecil seperti angkringan itu.” “Maksudnya?” “Supaya kalau hari ini sedang hujan atau gerimis seperti hari ini, kamu tetap mendapat penghasilan.” Penjual dawet diam, merenung, hening. “Sudah ya, Yu, aku pergi dulu.” pamit pembeli itu sambil menyerahkan sejumlah uang. Penjual dawet kembali duduk. Ia masuk dalam keheningan dan berkata kepada Tuhannya, “Terima kasih, Tuhan, Engkau baru saja memberikan kesegaran kepadaku, kesegaran yang mencipta harapan. Amin.” Begitulah hidup si penjual dawet itu. Hingga hari ini, ia masih melakukan hal yang sama, dengan cara yang sama, di tempat yang sama. Hari-harinya ia lalui dengan gerobak dawetnya dan makanan angkringan dengan doa yang sama, pada waktu serta tempat yang sama, dengan harapan yang sama dan keyakinan kepada Tuhannya.

Dikutip dari Utusan, No. 01 Tahun ke-64, 2014