Santapan Batin 88

Suatu ketika, aku pergi memancing ke telaga dengan Dimas yang usianya 9 tahun. Setelah kerja bakti di Kapel Trenggono, Dimas mengajak aku dan beberapa teman ke telaga yang berjarak tidak lebih dari 500 meter dari kapel. Saat itu, kami melihat banyak anak memancing di situ. Saat itu juga muncul niatku untuk memancing. Niatku itu semakin berkobar saat Dimas berkata bahwa di telaga itu kalau beruntung bias mendapat ikan gurameh. Dimas yang kuajak untuk memancing pun langsung setuju. Saat itu kami setuju untuk tidak mengajak siapapun karena kata Dimas, ikan takut kalau ada suara rebut. Maka kami pun langsung pergi ke telaga itu lagi setelah kembali ke rumah dulu untuk mengambil perlengkapan, mencari cacing tanah, dan memohon izin kepada ibu Dimas. Sepanjang perjalanan, aku pun mengajari beberapa trik memancing untuk Dimas, salah satu di antaranya cacingnya harus dibelah dulu karena aroma darah cacing itu akan menjadi daya tarik bagi ikan. Saat kami tiba, kami langsung mengaitkan cacing dan melemparkan pancingnya. Tanpa disangka, kami mendapatkan bawal yang sejengkal panjangnya dalam waktu 15 menit saja. Setelah itu, makin banyak ikan yang kami dapatkan. Akhirnya , setelah 30 menit berlalu, ikan yang ada di besek sudah sampai 5 ekor. Saat ikan yang ke enam tertangkap, Dimas melepaskan kail dari mulut ikan lalu dia malah melepaskan ikan itu lagi. Saat aku tanya alasannya dia menjawab, “Kalau semua ikannya kita tangkap, nanti anak-anak yang lain gimana?” Aku pun kaget mendengar perkataan itu, aku sadar bahwa tindakanku itu membuat orang lain sedih karena tak dapat ikan. Belum selesai aku berpikir, Dimas berkata lagi sambil menuding seorang anak yang sebaya dengan aku, yang memancing di dekat kami, “Lihat! Mas Dedi baru dapat 2 ikan, padahal dia mau gunakan untuk makan malam sekeluarga. Masa Cuma makan 2 ikan?” Mendengar perkataan Dimas itu, aku memiliki perasaan yang campur aduk antara malu dan kagum karena seorang anak kecil memiliki pemikiran yang lebih luas daripada aku. Aku benar-benar kagum pada Dimas. Baru pertama kali ini aku melihat ada seorang anak seperti Dimas. Aku sering bermain game di Timezone sampai tamat, padahal mungkin ada banyak orang yang menungguku. Aku begitu egois. Antara malu dengan diriku sendiri dan sadar akan orang yang lebih membutuhkan, aku kembali lagi ke telaga dan memberikan emapt ikanku ke Mas Dedi. Aku pikir, dia lebih membutuhkannya. Ikan itu tak akan begitu berarti bagiku karena tanpa ikan itu pun, lauk tetap akan tersedia di rumah. Namun ikan itu akan sangat berarti bila kuberikan kepada Mas Dedi karena ikan itu bisa membuat keluarganya makan dengan cukup lauk. Sepanjang perjalanan pulang, memang frekuensi bicara kami berkurang. Aku lebih sering merenung dan bangga karena aku bisa melakukan tindakan yang belum pernah aku lakukan itu. Aku senang bias membantu orang lain. Saat aku bertanya, “Nggak apa-apa kan kalau kita cuma bawa pulang 1 ikan?” Dengan santai Dimas pun menjawab, “Nggak apa-apa!”

Dikutip dari Vincent Alvin, Mutiara dari Desa, Semarang, SMA Kolese Loyola, 2008, hal. 106-108