Santapan Batin 89

Suatu ketika hidup seorang inspektur polisi yang terkenal bernama Jang Shau-Sher. Ia terkenal akan pengamatannya yang sangat tajam. Pernah, di siang hari pada musim panas yang terik, inspektur itu dengan santai mondar-mandir di sebuah kuil yang terkenal. Secara kebetulan, ia melihat tiga orang sedang tidur di sisi kiri kuil tersebut. Di dekat mereka terdapat semangka yang telah diiris-iris menjadi beberapa bagian tetapi tidak dimakan. Inspektur itu memerintahkan para ajudannya untuk menangkap ketiga laki-laki itu karena mencuri dan membawa mereka kembali ke kantornya. Sesudah interogasi singkat, mereka mengakui kesalahan mereka. “Bagaimana mungkin?” tanya para warga kota ketika mereka mendengar mengenai kejadian ini. “Ini luar biasa! Inspektur itu lebih dari sekedar berbakat. Nalurinya terlalu tajam untuk dipercaya.” Pada sebuah pesta pribadi, salah satu menanyakan mengenai penalaran yang luar biasa ini. Sambil tersenyum penuh arti inspektur itu menjelaskan, “Ini bukanlah apa-apa. Aku semata-mata hanya memperhatikan detil dan penuh pertimbangan. Dengan sedikit akal sehat anda juga dapat menemukan banyak hal yang penting terjadi di sekitar anda.” “Pada umumnya, orang yang patuh pada hukum mulai bekerja di pagi buta dan pergi tidur di senja hari. Ketika melihat tiga orang lelaki bertubuh sehat mendengkur di siang bolong seketika timbul kecurigaan saya. Apalagi, kebanyakan orang yang membuka semangka akan segera menikmatinya. Orang-orang ini tidak melakukannya. Sebaliknya, mereka sengaja memotong semangka itu untuk menarik lalat, yang akan mencegah serangga-serangga menjijikkan itu mengganggu tidur mereka. Siasat yang mewah seperti itu dapat terjadi di ruang tidur sebuah istana yang indah, tetapi tidak di tempat umum. Baju mereka yang biasa-biasa saja menunjukkan bahwa mereka tidak berasal dari kelas sosial tertentu yang istimewa, sehingga bagaimana mereka dapat bersikap sebegitu boros? Mereka pasti telah mendapatkan banyak uang lebih.” “Dengan mengingat hal ini aku berpikiran bahwa mereka pasti baru saja melakukan tindakan kriminal. Sesudah menanyai mereka dengan membabi buta dan menggeledah rumah mereka, aku berhasil membuktikan kecurigaanku.” Analisa yang jeli dihargai tinggi oleh setiap orang di pesta itu.

Dikutip dari Lee, Walton C., Wisdom’s Way, Jakarta, Pustaka Delapratasa, 1999, hal. 216-217.