Kunjungan Santri Sunan Pandanaran

Acara Perkenalan Jumat, 30 Mei 2014, pukul 14:30, rombongan 30 orang dari Pondok Pesantren Sunan Pandanaran tiba di Kolese St. Ignatius (Kolsani). Mereka didampingi oleh Bapak Suhadi Cholil, seorang pengasuh pondok pesantren yang terletak di Jl. Kaliurang Km. 12,5 Candi, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta itu. Ia dosen di Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS), Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada. Mereka datang untuk menjalin persaudaraan lintas agama melalui komunikasi dengan para Yesuit dan meluaskan cakrawala kuliah “Studi Agama-agama” mereka. Frater Heri Setyawan SJ dan beberapa frater Yesuit lain di Kolsani menyambut dan mengajak mereka ke tempat yang sudah disiapkan bagi dialog.
TanyaJawab Di tempat itu, para santri melihat video dokumentasi “90 Tahun Kolsani.” Kemudian, Frater Hadian Panamokta SJ menjelaskan tahap-tahap pendidikan calon imam Yesuit dan menggambarkan kegiatan sehari-hari komunitas Kolsani. Lalu, para santri bertanya-jawab dengan para frater Yesuit mengenai paham Allah dalam Kristianitas, ketuhanan Yesus Kristus, siapa Santo Ignasius Loyola itu, pelayanan dan kehidupan para imam Katolik, hubungan Gereja dengan agama-agama non-Kristiani, kegiatan misioner Gereja, peran Gereja dalam dunia, pandangan Gereja mengenai budaya dan politik.
Para-Santri-Bersama-Frater-Kolsani Acara selanjutnya adalah sholat ashar bagi para santri, menikmati kudapan, minuman, dan obrolan dalam suasana kebersamaan yang hangat. Yang berikutnya adalah acara bagi para santri untuk mengenal Kolsani, deretan kamar frater dan pastor Yesuit, ruang makan, dan kapel, serta mengenal Gereja St. Antonius Kotabaru, dari balkon melihat suasana dalam gereja di mana umat berdoa rosario bersama, atau mengaku dosa sebelum perayaan ekaristi harian dimulai pada pukul 17:30. Para frater Yesuit menjelaskan simbol-simbol yang ada dalam gereja.
Berpose-sebelum-Pulang Acara terakhir adalah foto bersama di halaman depan Kolsani sebelum rombongan santri meninggalkan Kolsani.

Dalam dialog antara para santri dan para frater Yesuit dihargailah kemerdekaan beragama yang mencakup kemerdekaan mencari kebenaran dan kemerdekaan berbicara. Setiap peserta dialog menghargai kemerdekaan rekan dialognya dan kemerdekaan dirinya sendiri. Persaudaraan antara umat Muslim dan umat Katolik tidak dapat ada tanpa dialog antara mereka. Dan dialog itu tidak dapat ada tanpa kemauan mencari pandangan, persepsi, dan asumsi yang benar mengenai dasar-dasar teologis rekan dialog, yang kerap terkait dengan emosi dan psikologi. Setiap orang Katolik dapat berdialog dengan tetangga dan temannya yang Islam dengan berbagai cara dalam kehidupan sehari-hari, dalam upaya bersama untuk saling memahami, dalam perjuangan bersama untuk mewujudkan keadilan sosial, kesejahteraan umum, perdamaian, dan kemerdekaan semua orang. Bila pendirian yang kita yakini sebagai kebenaran berbeda dari pendapat rekan dialog, itu tidak berarti bahwa pendirian kita tidak masuk akal atau bahwa kita tidak dapat mengatakan apa pun mengenai itu.

Semoga pada masa depan, semakin banyak komunitas yang melakukan kegiatan silaturahmi lintas agama dan semakin kuatlah persaudaraan antar umat beragama. AMDG!