Santapan Batin 99

Pengusaha besar dan sangat energik dari kota, sangat terkejut melihat nelayan di pesisir sedang berbaring di samping perahunya sambil menghisap rokok daun kawung. “Mengapa kamu tidak pergi menangkap ikan lagi?” tanya pengusaha. “Ikan yang kutangkap telah cukup banyak dan cukup untuk menghidupi anak biniku selama sepekan ini!” sahut nelayan. “Mengapa tidak kautangkap lebih banyak lagi dari yang kauperlukan …?” tanya si pengusaha. “Untuk apa?” tukas nelayan. “Engkau dapat mengumpulkan uang lebih banyak,” jawabnya. “Dengan uang itu engkau dapat membeli motor tempel, dapat melaut lebih jauh, dapat ikan lebih banyak lagi. Engkau dapat membesarkan usahamu, kapal-kapal dapat engkau beli dan dapat mengangkat pegawai. Uangmu dapat engkau depositokan atau tanamkan dalam bangunan gedung-gedung, membuat pabrik atau yang lainnya, dan anak cucumu tidak akan kelaparan. Lalu kau pun akan kaya dan menjadi terkenal seperti aku.” “Apa sebaiknya yang harus kulakukan …? tanya nelayan. “Selanjutnya, kau dapat beristirahat dan menikmati hidup ini, ” jawab si pengusaha. “Menurut pendapatmu, sekarang ini aku sedang berbuat apa?! Bukankah aku saat ini sedang mensyukuri dan menikmati hidup ini?” jawab si nelayan dengan puas.

Dikutip dari Hiro Tugiman, 101 Pernik Kehidupan, Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 1996, hal. 67-68.