Santapan Batin 103

Daman, 45 tahun, sejak muda suka berkelana dari Banten sampai Banyuwangi agar mendapatkan ilmu kekebalan. Dengan tirakat dan usaha yang sungguh-sungguh dia belajar dari guru yang satu ke guru yang lain. Dia sangat marah kepada gurunya yang terakhir sebab gurunya yang terakhir tidak dapat memberikan tambahan ilmu yang berarti, karena hanya memberi nasihat. “Daman, ilmumu sudah cukup. Pesanku, jangan sombong atas ilmu yang kau miliki dan jangan kau merugikan sesamamu dengan ilmu itu!”

Sepuluh tahun berlalu, Daman sampai di sebuah danau dan ingin merasakan enaknya naik perahu. Daman bertanya kepada tukang perahu, “Sudahkah kau pelajari ilmu kebal?”. “Belum dan tidak perlu,” jawab tukang perahu. “Kamu bodoh, hidup tak ada artinya. Aku telah menikmati apa saja di dunia ini. Makan, minum, harta, kekayaan… tinggal ambil saja. Siapa berani dengan aku? Dikeroyok sejuta orang pun takkan kalah, dan hari depanku cerah. Apa hidupmu itu? Makan jagung, rumah reot dan katamu tadi apa… istrimu buta? Hidupmu benar-benar sia-sia!” kata Daman dengan ketusnya.

Tukang perahu yang umurnya lebih dari 60 tahun itu sangat sedih, tetapi masih bisa menahan dirinya. Tiba-tiba angin bertiup kencang dan gelombang tak dapat dihindari. Tukang perahu berseru kepada Daman, “Katakan kepadaku, bisakah kau berenang?!” “Tidak!” jawab Daman “O…, kawan yang baik dan perkasa. Kalau begitu seluruh hidupmu, semua usaha, dan jerih payahmu serta kekebalanmu akan sia-sia, karena sebentar lagi perahu ini akan tenggelam,”kata tukang perahu dengan tenangnya.

Dikutip dari Hiro Tugiman, 101 Pernik Kehidupan, Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 1996, hal. 157-158.