Santapan Batin 104

Daging rusa buruan telah digoreng untuk santapan raja yang adil dan bijaksana. Namun mereka tak punya garam. Seorang hamba disuruh ke kampung terdekat untuk membeli garam dan baginda berpesan, “Bayarlah garam yang kau peroleh, jangan sampai timbul kebiasaan buruk yang membuat desa bisa runtuh”. “Kerugian apa, Paduka? Kan hanya garam saja, apakah mungkin dapat meruntuhkan desa?” tanya si hamba dengan menyembah. Raja menjawab, “Dalih untuk di dunia itu kecil. Namun, siapa yang dapat menghilangkan dalih itu sehingga tidak akan menjadi besar dan merambat? Jika seorang raja mengambil begitu saja sebuah apel dari kebun milik seseorang, maka para pengikutnya akan ikut mencabut pohon itu sampai ke akar-akarnya. Demi sebutir telur, yang dipertahankan raja dengan paksa, maka prajurit-prajuritnya akan merampas sejuta unggas di kolam air! “Oleh karena itu hai para punggawa kerajaan, jangan kau keji, menindas, dan merampas hak orang lain. Dulu pernah terjadi, ada serdadu yang keji, tanpa ampun memukul dengan batu kepala Darwis, seorang rakyat kecil. Darwis tidak berniat membalas, namun menyimpan batu itu. Aku sangat murka dan serdadu itu kupecat dan dimasukkan dalam sumur selama tiga hari. Kemudian Darwis muncul dan menjatuhkan batu yang disimpannya ke atas kepala bekas serdadu itu. Ditanya mengapa menjatuhkan batu di atas kepala bekas serdadu, Darwis menjawab bahwa selama ini dia takut karena ia rakyat kecil, namun setelah serdadu dihukum di dalam sumur, kesempatan itu dimanfaatkan,” sabda Baginda.

Dikutip dari Hiro Tugiman, 101 Pernik Kehidupan, Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 1996, hal. 154-155.