Kita Semua Adalah Migran

“None of us is a native of the place we call home.”

– Mohsin Hamid –

Senin, 7 September lalu, sejumlah 297 pengungsi Rohingya merapat di Lhokseumawe, Aceh. Menurut informasi, mereka adalah bagian dari sekitar 800 etnis Rohingya yang berangkat pada Maret lalu dari Bangladesh. Mereka mencoba untuk mencapai Malaysia, tetapi otoritas negeri itu mendorong mereka kembali ke perairan internasional.

Etnis Rohingya merupakan kelompok etnis yang tidak memiliki kewarganegaraan (stateless people). Otoritas Myanmar tidak mengakui mereka sebagai warga negara, meskipun mereka telah ratusan tahun tinggal di wilayah negara tersebut.

Memiliki kewarganegaraan merupakan hal yang begitu penting. Dengannya, orang diakui keberadaannya, menjadi bagian dari suatu masyarakat, serta memiliki institusi yang berkewajiban untuk menjamin hak-hak dasariahnya: perlindungan, pendidikan, jaminan sosial, dst.

Sebaliknya, tanpa kewarganegaraan, orang kehilangan akses untuk dapat menjalani hidup yang bermartabat. Orang tanpa kewarganegaraan dengan mudah dilanggar hak-hak asasinya dan akan selalu dipandang sebagai orang asing atau alien, sebagai yang lain (liyan) dalam masyarakat.

Ketika situasi sulit telah sedemikian menghimpit, mereka pun berupaya pergi ke negeri-negeri lain, berharap keluar dari kesulitan dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Sayang sekali, kehadiran mereka sebagai pencari suaka, pengungsi atau kaum migran di negeri lain pun tidak diharapkan. Seperti kisah 800 etnis Rohingya ini, misalnya, mereka terombang-ambing di lautan selama enam bulan, ditolak negara-negara di Asia Tenggara, juga menjadi tawanan para penyelundup manusia.

Keberadaan orang-orang semacam ini secara spontan sebenarnya mengundang simpati. Sebagaimana direfleksikan Levinas, panggilan paling dasariah dari wajah orang yang lain yang sedang mengalami kesusahan adalah: “Kamu harus menolong aku.” Sayangnya, kekecilan hati, ketakutan-ketakutan, macam-macam prasangka, kemudian lebih menyeruak. Dan, kita pun memilih diam atau bahkan menolak yang lain.

Padahal, bila memadang secara lebih jauh, kita semua adalah para migran: “We are all migrants.” Kita bisa ada di sini saat ini karena gerak migrasi nenek moyang kita, yang terus bergerak (on the move) sejak permulaan demi mencari dan menemukan tempat yang lebih baik untuk memelihara hidup.

Para penghayat tradisi Abrahamistik memahami bagaimana manusia pertama adalah adalah Homo sapiens migran yang pertama ketika harus keluar dari Eden. Abraham, bapa orang beriman, adalah sang migran, semenjak ia dipanggil Tuhan untuk pergi ke tanah yang dijanjikan.

Kita semua adalah kaum migran. Konsep tentang warga negara dan orang asing baru muncul belakangan ketika manusia mulai membangun batas-batas territorial.

Kita semua adalah kaum migran, menempati bumi yang sesungguhnya adalah milik bersama bangsa manusia dan segenap makhluk di dalamnya. Di situ, semestinya tidak perlu ada kelompok orang yang dieksklusi atau dibuang. Mereka barangkali berbeda dalam asal usul dan latar belakang, tetapi secara mendasar sama dalam martabat dengan kita.

Kita semua adalah migran, diundang untuk ramah dan bermurah hati pada sesama migran yang menderita dan merana di pinggiran kemanusiaan.

 

Martinus Dam Febrianto, SJ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *