MOMEN PERHENTIAN

Merenungkan bahwa kita memasuki Masa Prapaskah, saya teringat dengan tulisan Bapa Suci Fransiskus di harian terkemuka The New York Times, 26 November 2020 yang lalu.

Paus menulis dalam konteks dunia dalam pandemi Covid-19. Paus mengatakan bahwa pandemi Covid-19 merupakan momen penting dalam hidup. Momen macam apa: momen perhentian, yang bisa dijadikan sebagai saat untuk merenung dan kemudian membuat perubahan dan pertobatan.

Dalam hidup, kita punya saat-saat perhentian, semacam Covid personal, begitu. Ini serupa dengan stasi-stasi atau perhentian-perhentian dalam ibadat Jalan Salib.

Pada masing-masing dari kita, perhentian ini bisa jadi saat kita mengalami sakit, saat kita mengalami kegagalan dalam bisnis, studi, atau pernikahan. Bisa jadi, itu adalah saat kita mengalami kekecewaan atau pengkhianatan besar, mungkin dari teman-sahabat-orang yang kita cintai. Momen-momen ini membawa ketegangan, membawa pada krisis, namun juga dapat mengungkap apa yang ada di hati kita, apa yang kita rasakan, pikirkan dan yakini mengenai hidup.

Paus melihat bagaimana pandemi Covid-19 merupakan momen perhentian bersama. Karena pandemi, kita mengendurkan aktivitas luar rumah, kita menjaga jarak fisik dengan orang lain, kita kehilangan orang-orang yang kita kasihi, kita menyaksikan orang-orang menderita atau sakit, kita secara bersama-sama memiliki kekuatiran, kita sama-sama berduka.

Namun, tidak sampai di situ, pandemi juga mengungkap siapa kita: manusia berhadapan dengan hukum alam, manusia sebagai makhluk yang hidup bersama sesamanya. Pandemi mengungkap bagaimana manusia mesti menghormati alam. Pandemi mengungkap bagaimana manusia saling terhubung dan tergantung. Pandemi mengungkap bagaimana solidaritas perlu diwujudkan.

Pesan penting tulisan Paus Fransiskus: keluar dari momen krisis ini seharusnya tidak sama ketika kita memasukinya. Maksudnya, seharusnya ada perubahan cara berpikir dan cara bertindak supaya kita tidak terjerembab dalam krisis yang sama. Atau, kalau pun terjadi krisis yang serupa di masa yang akan datang, kita tidak harus jatuh sedemikian dalamnya.

Masa Prapaskah, kurang lebih menjadi momen perhentian juga. Ini adalah masa yang diselenggarakan Gereja agar menjadi momen perhentian personal maupun momen bersama. Kita diberi waktu untuk lebih merenungkan hidup beriman kita. Kita berdevosi, kita berpantang dan berpuasa, kita diundang berderma dalam rupa Aksi Puasa. Semua itu sarana untuk lebih mengungkap siapa kita dan apa yang mesti kita perbaiki agar hidup kita lebih baik dan lebih selaras dengan Allah.

Maka, undangan Paus bagi umat manusia seluruh dunia, untuk keluar dari krisis tidak sama seperti ketika memasukinya, berlaku bagi kita yang memasuki Masa Prapaskah ini. Barangkali ada kebiasaan-kebiasaan buruk yang mencerminkan egoisme. Barangkali ada perilaku-perilaku yang tidak ramah sesama dan lingkungan. Barangkali ada macam-macam konsumsi yang tidak kita perlukan, tapi diperlukan orang lain. Mari usahakan agar masa ini menjadi masa latihan rohani, sehingga ketika datang Hari Paskah nanti, kita menjadi manusia baru, tidak sama seperti saat kita memasuki masa 40 hari pantang dan puasa ini.

Tentu saja, bertobat atau berubah tidak pernah mudah. Perlu usaha dari pihak kita dan tentu saja rahmat Allah. Maka, Santo Petrus mengingatkan dua hal ini (1 Ptr. 3:18-22). Pertama, agar kita percaya belaskasihan Allah Bapa itu besar. Dia itu Allah yg penuh kerahiman. Ia menanti dengan sabar perubahan dan pertobatan kita. Kedua, agar kita tidak lupa bahwa Yesus telah mati sekali untuk dosa-dosa kita. Percayalah ia sendiri memberi kekuatan bagi pertobatan kita dan pada akhirnya membawa kita berbahagia bersama Allah.

Mari berani bermimpi bahwa kita bisa menjadi manusia yang lebih baik, yang membangun masa depan yang lebih baik pula.

Tuhan memberkati.

M. Dam Febrianto, SJ


Sumber gambar : https://www.chesterstandard.co.uk/news/18262856.ash-wednesday-start-lent-2020-now-begun/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *